Sabtu, 30 Juni 2012

KKN 2012 "Kota Tarakan"


Gue Punya Posko

Kuliah beranjak ke Semester 6 gak terasa udah ngelewati 3 tahun masa kuliah. Sekarang menuju KKN, untuk para mahasiswa yang belum pernah KKN pasti bertanya apa sih KKN itu, ngapain aja dan kemana aja. Pertanyaan yang wajar bagi seorang yang awam belum pernah KKN. Coba deh kita bahasa KKN itu apa dan bagaimana, agar lebih terlihat asalinya coba saya sajikan dengan pengalaman KKN yang Gue dapatkan.

KKN artinya Kuliah Kerja Nyata dalam hal lain saya defisinikan Kuliah yang artinya Belajar, Kerja yang artinya Dilapangan , dan Nyata samadengan Dimasyarakan. Dapat disimpulkan bahwa KKN merupakan pengabdian mahasiswa (Perguruan Tinggi) terhadap masyarakat. 
Macam dan pilihan KKN diantaranya :
  • KKN Reguler
  • KKN Kompetensi
  • KKN Profesi
  • KKN Tematik

Contoh Bet untuk wilayah Tarakan


KKN Reguler merupakan suatu sistem pembagian wilayah kita dapat dengan cara di Undi atau kita pilih dengan batas kuota.

Enaknya KKN reguler apa ? pasti pertanyaan seperti ini yang ada dikepala kita :

  1. Pendaftaranya murah banter Rp.50.000 sudah dapat asuransi jiwa 
  2. Tidak serepot KKN yang lain
  3. Dapat teman-teman baru
  4. Penuh kejutan dan misteri
  5. Dan lain-lain pokoknya.

KKN Kompetensi merupakan suatu sistem kita dapat membuat kelompok sendiri dengan batasan 7 orang dan kita dapat menentukan wilayah kita.

Enaknya KKN Kompetensi apa ? coba dijawab ini :
  1. Kelompok dapat kita tentukan sendiri.
  2. Wilayah tempat KKN dapat kita tentukan.
  3. Sering menjadi pilihan di Perusahan tambang, Lembaga pemerintahan, dan instansi lainya. sesuai jurusan.
  4. Berusaha dengan sendiri jadi mandiri
  5. Dan lain-lain deh.

KKN Profesi merupakan suatu sistem dimana kita bisa langsung kaitakan antara kerja kita dengan KKN kita.

Enaknya KKN Profesi apa ? ini dia :
  1. Sesuia dengan pekerjaan kita.
  2. Efesian dalam hal kerja
  3. Lebih mendalam didunia kerja kita.
  4. Mudah dalam mengelola.
  5. Dan lain-lainnya.

KKN Tematik merupakan suatu sistem yang kurang lebih sama dengan KKN kompetensi namau kita membuat tema KKN sendiri.

Kelompok dapat kita tentukan sendiri.
  1. Wilayah tempat KKN dapat kita tentukan.
  2. Sering menjadi pilihan diLembaga pemerintahan, dan instansi lainya. sesuai jurusan.
  3. Berkarya dengan tema
  4. Dan lain-lain deh.
itu sedikit cerita tentang KKN hati-hati dan waspadalah karena KKN banyak kejutan dan rahasia yang tersembunyi.


Sabtu, 23 Juni 2012

Paling Indonesia " Tradisi Tahunan Kalimantan "

Kesenian dan tradisi yang harus terus di jaga beberapa tradisi yang paling indonesia khususnya di Borneo yang coba kita lihat dan amati. Acara yang luar biasa yang menjadi kultur yang menarik untuk di ikuti acaranya dan diabadikan. beberapa diantranya :


Kalimantan Barat
Dengan Wisata Budaya Tradisi Mempawah

Robok-Robok

Perahu bermuatan pangeran ratu melaju tenang diatas permukaan air Sungai Mempawah. Perahu lancang kuning yang tersohor itu bertolak dari Keraton Amantubillah. Setibanya di muara, seorang punggawa keraton mengumandangkan azan. Selepas itu, putra mahkota dan punggawanya membuang sesajain ke laut sebagai talak bala. Begitulah inti kegiatan robok-robok yang berlangsung di Kuala Mempawah,. Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong memadati lapangan di tepi Sungai Mempawah, sekitar 200 meter dari muara. Menjelang siang pengunjung yang datang semakin membludak. Bukan cuma warga Kuala Mempawah, tapi juga hanyak yang datang dari berbagai kampung di Kabupaten Pontianak. Bahkan tak sedikit warga Kota Pontianak yang sengaja datang dengan menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam.

Sejumlah pasangan muda-mudi datang menggunakan sepeda motor. Beberapa keluarga menggunakan mobil pribadi. Ada juga beberapa rombongan yang datang menggunakan mobil bak terbuka da n truk. Alhasil, sekitar 200 meter dari mulut jalan menuju lokasi terjadi kemacetan. Terlebih di sepanjang jalan menuju lapangan terdapat kios-kios para pedagang yang menjajakan berbagai produk, seperti pakaian, makanan, minuman, aksesoris, vcd, dan sebagainya.

Kendati hari itu cuaca begitu panas, matahari bersinar terik, namun tak mengendurkan niat orang untuk datang. Tujuan mereka satu, ingin menyaksikan robok-robok sekaligus berbelanja dan menikmati hiburan gratis. Beberapa turis asing pun nampak di antara ratusan pengunjung lokal.
Di lapangan, sejumlah tamu sudah menempati kursi-kursi beratap tenda besar yang menghadap sungai. Pengunjung yang tidak kedapatan kursi berdiri di bibir sungai. Tak lama kemudian perahu kuning yang membawa rombongan Pangeran Ratu dari Istana Amantubillah, DR Ir. Martian Adijaya Kesuma Ibrahim, MSc melaju di atas permukaan air Sungai Mempawah, sekitar 20 meter dari tempat para tamu duduk. Ketika memasuki Muara Mempawah, Pangeran Ratu dijemput oleh putra mahkota dan sejumlah punggawa keraton dengan menaiki perahu lancang kuning.

Di Muara Mempawah, seorang punggawa keraton mengumandangkan azan dari atas perahu. Selepas itu, putra mahkota melakukan ritual buang-buang sesaji ke laut sebagai talak bala. Selanjutnya, Pangeran Ratu dan permaisuri mendatangi para undangan, sedangkan putra mahkota kembali ke keraton.

Robok-Robok

Perayaan tradisi robok-rohok kali ini agak berbeda, lebih istimewa daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini, perayaan yang dipusatkan di Sungai Mempawah dihadiri Raja dan Ratu serta perwakilan dari sejumlah keraton di Indonesia yang tengah mengikuti Festival Keraton Nusantara II. Mereka menjadi tamu spesial yang disertakan melihat langsung perayaan tradisi robok-robok.

Selepas acara seremonial pembukaan Pagelaran Seni Budaya Keraton Nusantara II dan Festival Seni Budaya Melayu IV se-Kalbar, para undangan dihibur dengan persembahan tari-tarian khas Kal-Bar. Ada tarian anging mamiri, khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Kemudian tarian selamat datang khas Melayu yang dibawakan beberapa penari perempuan dengan mengenakan pakaian berwarna kuning. Dan dilanjutkan dengan tarian 6 gadis cilik yang sempat mencuri perhatian undangan.

Usai pembacaan doa penutup, para raja, ratu dan undangan dijamu oleh Pangeran Ratu makan siang di Istana Amantubillah. Prosesi makan siang ini menggunakan tradisi saprahan atau makan bersama khas masyarakat yang tinggal di pesisir. "Dahulu ketika Opu datang di Memawah belum ada rumah. Mereka kemudian duduk dan makan bersama di tepi sungai beratap langit. Tradisi ini kemudian dilakukan masyarakat Mempawah secara turun temurun," tandas Pangeran Ratu Mardan. Usai bersantap, beberapa undangan melakukan ziarah ke makam Ompu Daeng Manambon.

Makna perayaan tradisi robok-robok menurut Pangeran Ratu Mardan sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. "Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon, terdiri atas berbagai etnis dan agama," katanya. Dengan begitu robok-robok diyakini sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah.

"Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar. Bersama-sama mereka membangun Mempawah. Tadi ada makna harmonis antar etnis dan agama dibalik perayaan robok-robok ini," jelas Pangeran Ratu Mardan.

Bukti lain dari adanya keharmonisan itu, lanjut Mardan, bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon. Di makam tersebut juga terdapt makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam etnis lainnya.

Sedangkan Gubernur Kalbar H. Usman Jafar mengatakan robok-robok merupakan aset pariwisata Kalbar. "Peringatan robok-robok tahun ini yang disatukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton Nusantara memberi warna baru untuk meningkatkan seni budaya," kata Jafar.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan robok-robok yang sudah menjadi salah satu kalender wisata nasional ini menjadi hihuran gratis masyarakat. Sejumlah hiburan ditampilkan seperti kontes motor air, busana adat, qasidah, karaoke lagu daerah, hadrah, albarzanji, panjat pinang, tepuk bantal, tarik tambang, tenis meja, bola voli, sepakbola anak gawang, lomba sampan, tarian daerah, dan atraksi kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Pontianak. Kegiatan ini berlangsung di tepi Sungai Mempawah sejak pagi hingga malam hari.

Robok-robok bagi sebagian masyarakat lokal menjadi berkah tersendiri. Mereka mendulang rupiah dengan berjualan berbagai produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah pelaksanaan robok-robok.

Perayaan tradisi robok-robok berlangsung setiap tahun di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Mudah mencapai lokasi Mempawah. Dari Bandana Supandio, Pontianak tinggal mencarter taksi atau bus travel. Waktu tempuh sekitar 2 jam.Atau bisa dengan bus umum dari terminal Kota Pontianak menuju Kuala Mempawah. Jalan yang dilalui beraspal mulus dengan lalu lintas yang lengang. Kalau letih dan lapar, sepulang dari menyaksikan robok-robok, bisa mampir di Pondok Pengkang yang menyajikan makanan khas Melayu dan penganan pengkang atau sejenis lempar ketan.Suhardi Budpar prov kalbar.

Kalimantan Timur
Dengan Wisata Budaya Tradisi EARU

Tarian Khas Dayak
Di balik itu kesadaran untuk terus menjaga warisan seni budaya leluhur sebenarnya juga tidak pernah redup. Niat, semangat dan komitment dengan gampang didengar lewat segenap pidato, visi-misi dan program berbagai pihak. Dokumentasi juga terus dilakukan dan panggung untuk mementaskannya juga disediakan. Erau, yang pada awalnya adalah peringatan untuk merayakan naik tahtanya sang Raja, kini dikenal sebagai festival tahunan yang menjadi panggung pentas pertunjukkan berbagai kesenian yang berlatar belakang budaya suku dan sub suku yang tinggal di wilayah Kutai Kartanegara, mencoba untuk terus bertahan meski masa depannya masih tampak buram.


Erau dan Kerajaan Kutai Kartanegara bagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Erau untuk pertama kali dilaksanakan dalam bentuk upacara tijak tanah dan mandi ke tepian untuk Aji Batara Agung Dewa Sakti pada usianya yang ke 5. Dia inilah yang kemudian menjadi menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325). Penobatan Aji Batara Agung Dewa Sakti menjadi Raja juga diadakan lewat upacara Erau. Sejak saat itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Dalam perkembangannya upacara Erau juga diadakan untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Selain sebagai upacara kerajaan, istilah Erau sebenarnya juga dipakai atau dikenal sebagai sebutan acara atau ritual dalam kehidupan berbagai suku ’asli’ di pulau Kalimantan. Di Kota Bontang, warga Guntung secara rutin mengelar Erau Pelas Banua. Menurut sejarahnya Erau Pelas Banua ini telah dilaksanakan sejak jaman pemerintahan Sultan Sulaiman XVII. Dalam tradisi masyarakat Dayak juga dikenal perayaan Erau atau Pelas Tahun. Masyarakat Tunjung Benuaq menyebutnya sebagai Nggugu Tahun. Dan kini perayaan semacam ini dilaksanakan setiap tahun di Kabupaten Kutai Barat yang ditandai dengan upacara penombakan kerbau. Masyarakat Kabupaten Berau juga mengenal perayaan semacam Erau yang disebut dengan Birau.

Kembali kepada Erau dan keterkaitannya dengan Kutai Kartanegara, Halimi Hadibrata, dalam studinya atas naskah Salasilah Kutai menemukan dan menyimpulkan bahwa tradisi Erau dalam Kerajaan Kutai Kartanegara menunjukkan jenis-jenis upacara adat yang terdiri atas :

  • Upacara sepanjang hayat yang berkaitan dengan fase peralihan dan penyatuan hidup individu sejak kelahiran sampai dengan kematian.
  • Upacara adat kerajaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kemakmuran
Dengan demikian upacara Erau mempunyai dua domain yakni domain individu dan publik. Pada wilayah individu adalah upacara adat yang berkaitan dengan fase hidup sepanjang hayat terdiri atas : Upacara adat kelahiran , upacara adat turun ke tanah dan mandi di sungai, upacara adat pemberian gelar kehormatan, upacara adat perkawinan dan berbelian dan upacara adat kematian. Sementara pada wilayah publik, upacara adat kerajaan adalah upacara kenaikan tahta dan kemudian juga pemberian gelar kehormatan.

Erau versi kerajaan inilah yang amat populer atau dikenal luas oleh masyarakat baik di dalam maupun diluar Kalimantan Timur. Sehingga seolah-olah Erau identik dengan perayaan adat di Kabupaten Kutai Kartanegara semata. Hal mana bisa dimaklumi karena Erau Kerajaanlah yang menyertai Kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari tumbuh kembangnya sampai pada peralihan kekuasaan dan bahkan sampai saat ini.

Sejarah Erau dan Kutai Kartanegara yang tak terpisahkan itu, sama-sama membawa jejak-jekak percampuran budaya (Multikultural Purba). Dlam paparan lebih lanjut, Halimi mengungkapkan, baik dalam Erau maupun kerajaan sekurang-kurangnya bisa ditemukan 3 pengaruh kebudayaan yaitu :



  • Kebudayaan Hindu India termasuk kepercayaan lokal (animisme dan dinamisme).
  • Kebudayaan Hindu Jawa (Majapahit).
  • Kebudayaan Islam (Melayu, Bugis, Banjar).

Keragaman atau percampuran memang melekat dalam cerita sejarah atas asal-usul berdirinya kerajaan Kutai Kartanegara. Baik dalam dokumen lama (purba) maupun telaah para ahli sejarah. Memang tidak ada cerita tunggal tentang kemunculan kerajaan Kutai. Ada catatan yang mengkaitkan kemunculan Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pelarian dari Kerajaan Singosari, namun ada juga yang menghubungkan dengan Kerajaan Majapahit yang menempatkan otoritas kekuasaan di daerah taklukan. Dalam catatan berikutnya Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menahklukan dan mengambil alih simbol-simbol serta kekayaan Kerajaan Kutai Mulawarman. Kerajaan Kutai Mulawarman adalah kerajaan Hindu tertua yang jauh lebih dahulu ada di wilayah Kalimantan. Pada masa-masa akhir, kerajaan ini sempat hidup berdampingan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang baru berkembang.

Fenomena percampuran dalam Kerajaan Kutai Kartanegara terus berlanjut dalam bentuk ’perkawinan politik’. Hal ini dilakukan oleh calon raja atau raja itu sendiri dengan puteri dari Kutai Mulawarman, Kerajaan di Sulawesi Selatan, Pasir dan lain sebagainya. Tentu ini semua membawa pengaruh dalam dinamika kehidupan maupun kebudayaan keraton. Dengan demikian jika Erau dikaitkan dengan Kutai maka akan berdimensi banyak. Kutai bisa dalam arti wilayah kekuasaan, wilayah kebudayaan dan Kutai sebagai wilayah etnisitas. Maka Erau sebenarnya sebuah realitas kompleks baik dari sisi kontinuitas maupun diskontinuitas dalam perjalanan sejarahnya.
 

Ada banyak versi tentang Erau. Namun sebagai sebuah perayaan publik, Erau sebagai mana dituliskan oleh Drs. Aji Surya Dharma berasal dari bahasa Kutai ’eroh’ berarti ramai, riuh atau suasana yang penuh sukacita. Secara singkat upacara Erau yang pelaksanaannya dilakukan oleh kerabat Keraton dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat (petinggi) yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya. Dalam entri kamus Bahasa Indonesia, Erau diartikan sebagai acara adat di Kutai Kartanegara. Sementara itu Johansyah Balham dalam cerita roman sejarah ”Runtuhnya Martadipura” (tahun 2003) menyebutkan Erau sebagai sebuah pesta yang ditunggu-tunggu. Hari-hari itu segala bentuk ketangkasan (judi) dan minuman keras seperti dibebaskan. Pemuda-pemudi banyak memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari dan memadu cinta.

Erau memang tidak berdimensi tunggal. Masing-masing kelompok masyarakat mengartikan berdasarkan perspektif dan kepentingan mereka. Namun Erau pada wilayah public sebenarnya lebih mengacu pada rangkaian upacara untuk penobatan raja. Dalam Salasilah Kutai susunan atau rangkaian acara Erau untuk penobatan raja digambarkan sebagai berikut :



  • Hari pertama : Upacara menjamu Benua (kota). Maksud dari upacara ini adalah untuk memanggil Sang Hiyang-Hiyang (yang berada di kayangan dan berjumlah 37) untuk diminta doa restunya agar acara berjalan lancar tanpa halangan.
  • Hari kedua : Acara beredar. Para belian dan pangkoan diikuti oleh seorang kepala adat akan berjalan keliling ruangan dalam kenatan sebanyak tujuh putaran.
  • Hari ketiga : Upacara mendirikan ayu. Perlengkapan ayu diletakkan diatas butiran beras (beras tambak karang) warna-warni dan dihias dengan daun enau, daun kelapa dan lain-lain. Malamnya diadakan acara menjoget dan tari ganjur yang diikuti tamu serta raja. Setelah itu ada upacara naik ayu dan kemudian upacara gajah rendu. Terakhir para petinggi akan ke pinggiran sungai Mahakam untuk mengambil air tuli. Air yang ditaruh dalam guci ini akan disimpan dalam ruangan upacara. Raja berada paling depan dalam iringan untuk membawa air dari sungai ke ruang upacara.
  • Hari keempat, kelima dan keenam : Mengulang upacara hari ketiga.
  • Hari ketujuh : Upacara pengambilan air di Tanjung Riwana dipimpin seorang belian. Air ini kemudian disatukan dengan air tuli. Setelah itu ada pesta semalam suntuk diikuti seluruh hadirin (pria dan wanita). Sambil menari-nari mereka saling melempar beras. Acara meriah ini dihentikan saat fajar menjelang dengan upacara menjala hingga fajar menyingsing.
  • Hari kedelapan : Upacara berjerak. Seekor ayam dipotong diatas kepala raja, darah ayam kemudian disebar diatas tanah. Ini yang disebut dengan memelas bumi tujuannya agar negeri makmur, tanaman subur, rakyat sejahtera. Lalu dilanjutkan dengan upacara Berumban. Raja dengan badan diselubungi kain kuning dikurung dalam gulungan tilam. Raja akan bergerak dalam beberapa posisi yaitu hadap kiri, kanan dan terlentang. Pada setiap posisi tubuh Raja akan dielus-elus dengan mayang tertundun sebanyak tujuh kali dari kepala ke kaki dan sebaliknya. Setelah itu Raja akan dimandikan pada balai di pinggir sungai. Malam harinya Raja akan dipelas dengan tepung tawar dengan disaksikan para undangan, petinggi dan rakyat seluruh negeri Kutai Kartanegara. Saat itu Raja akan menegaskan kepemimpinannya dengan mengatakan ”Hai, orang Kutai akulah Rajamu”. Ucapan ini disambut oleh semua yang menyaksikan dengan mengatakan ”Pakulun patik Aji”. Dan dengan demikian selesailah rangkaian upacara Erau selama delapan hari.

Esok harinya Raja akan bertahta dan kemudian menerima sembah setia dan ucapan pamit dari seluruh petinggi dari daerah kekuasaannya. Dalam kesempatan ini Raja kembali meminta kesetiaan tanpa syarat kepada para petinggi dengan mengatakan ”Hai para orang tua-tua dari sepuluh negeri, meskipun binimu sendiri, kalau aku benci kepadanya, maka awakpun harus benci kepadanya”. Ucapan ini dijawab oleh para petinggi dengan kalimat ”Kaula nuwun patik Aji, pakulun patik aji”.

Setelah itu Raja akan dipelas oleh saudara putrinya. Raja kemudian turun dari tahtanya menuju guci yang berisi campuran air tuli dan air tanjung riwana. Raja kemudian membasuh muka, meminum dan berkumur-kumur lalu disemburkan kepada saudara putrinya. Selanjutnya saudara putrid akan berjoget diiringi dengan sorak sorai hadirin. Raja kemudian akan ditandu dan dibawa keluar keliling lapangan sebanyak tujuh kali untuk ditunjukkan pada rakyatnya. Setelah itu para hadirin dan petinggi akan meninggalkan paseban dan pulang ke daerah masing-masing.

Rangkaian upacara dan kegiatan selingan dalam acara penobatan raja ini menimbulkan keramaian dan keriuhan. Keramaian karena ada banyak orang berkumpul di pusat kerajaan. Keramaian itu semakin meriah dengan aneka pentas kesenian, adat dan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada di wilayah kekuasaan kerajaan. Suasana keramaian dan pesta inilah yang kemudian tertanam dalam benak dan ingatan masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli dengan Erau sebagai sebuah perisitiwa sosiopolitik sebagai mana diungkapkan oleh Roedy Haryo AMZ, organik dan pemerhati kebudayaan Kalimantan Timur. Dalam keterangannya dijelaskan bahwa konteks perayaan Erau adalah kepentingan politik rezim penguasa. Erau dimaksudkan untuk menjadi penanda legitimasi penguasa, dimana dari sana bisa diukur sejauh mana seorang penguasa (Raja/Sultan) diterima oleh rakyatnya. Partisipasi masyarakat, kedatangan para petinggi dari berbagai kelompok masyarakat (puak) menjadi perlambang diterimanya kepemimpinan penguasa saat itu oleh mereka. Dalam Salasilah Kutai diceritakan bahwa Erau merupakan kesempatan pertemuan antara Raja/Sultan dengan para petinggi dari wilayah-wilayah yang termasuk dalam kekuasaannya. Pada kesempatan itu akan disampaikan permintaan, petunjuk dan arahan dari sang raja. Apapun titah dan keinginan sang raja harus dituruti.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Roedy Haryo AMZ, Halimi Hadibrata menambahkan bahwa petinggi-petinggi daerah datang bersama rombongan seraya membawa bekal dan sesembahan untuk Raja (upeti). Dengan demikian keramaian sendiri bukan diciptakan oleh Raja dan Kerabatnya. Suasana ramai karena para petinggi datang dengan rombongan besar dimana didalamnya termasuk para pemasak dan kelompok seniman. Raja menyediakan tempat dan kesempatan di sekitar istana agar rakyat bisa berkumpul dan bergembira bersama. Pemberian dan ijin menyangkut tempat dan kesempatan dari Raja inilah yang kemudian dianggap oleh rakyat sebagai tanda kebaikan, keramahan dan keterbukaan Raja beserta kerabatnya terhadap masyarakat umum (biasa). Citra pembauran Raja dan kerabat dengan rakyat pada perayaan Erau terus direproduksi sampai saat ini.

Padahal jika kembali pada penjelasan Roedy maupun Halimi, jika Erau diibaratkan sebagai sebuah dialog kekuasaan, maka Erau merupakan bentuk dialog yang searah. Keterlibatan masyarakat atau rakyat dalam perayaan itu adalah keterlibatan pasif, mereka datang sebagai penonton, pengembira atau pengisi acara. Kembali pada asalnya Erau pada dasarnya adalah perayaan keraton atau adat istiadat/tradisi Kutai dari golongan bangsawan (dalam keraton) yang dirayakan secara publik. Kenyataan seperti ini oleh Cliffords Geertz disebut dengan istilah ’negara teater’, dimana kekuasaan ditegakkan lewat upacara-upacara, seni pemujaan dan produksi aneka simbol yang melegitimasikan raja dan istana sebagai pusat dari tatanan/hirarki kosmos. Secara singkat Geertz mengambarkan sebagai berikut :

Kehidupan ritual keraton – upacara-upacara massal, kesenian yang sangat halus, tata krama yang sangat rumit – tidak selalu merupakan hiasan kekuasaan melainkan merupakan substansinya. Ibu kota merupakan panggung sandiwara dimana para agama dan kaum bangsawan dengan dipimpin oleh raja, tak henti-hentinya memamerkan upacara yang megah dimana rakyat bertindak sebagai penonton, pembawa tombak dan sekaligus melalui upeti dan kerja bakti yang wajib ia berikan, sebagai sponsor.

Kembali ke Salasilah Kutai. Pada jaman-jaman awal penduduk atau masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Kutai tidak dibeda-bedakan atau semua disebut sebagai orang Kutai. Atau penyebutan lain yang mengacu pada nama tempat atau daerah aliran sungai. Dalam persoalan adat, kerajaan waktu itu juga mengakui dan menghormati adat dari kelompok masyarakat di sebuah tempat. Hal mana tampak dalam pasal 7 kitab Panji Selaten yang disebut adat adalah sesuatu yang berlaku di suatu kaum (masyarakat) dan daerah, seperti adat daerah Modang, Bahau, Tunjung, Banua, Basap dan sebagainya. Pembedaan penyebutan dan perlakuan baru muncul kemudian dalam Kitab/Undang-Undang Baraja Niti. Perbedaan penyebutan dan perlakuan ini didasarkan oleh sistem kepercayaan atau agama. Islam saat itu menjadi agama ’resmi’ kerajaan. Maka siapa yang tidak memeluk Islam akan mendapat perlakuan diskriminatif sebagaimana terlihat dalam pasal 14 yang berbunyi : Jika membunuh Islam, dibunuh pula kafir itu; kalau dibandingkan dengan pasal 16 yang berbunyi : Kalau Islam membunuh kafir, tiada harus dipulihkan melainkan didenda atasnya. Pembedaan yang mulai muncul dari syiar agama Islam kemudian semakin diperkuat oleh konstruksi yang dibangun oleh bangsa Kolonial. Demi kepentingan menguasai sebagian wilayah Kutai maka mereka menciptakan penyebutan istilah pedalaman dengan segala stereotype dan stigmatisasinya. Tujuannya adalah agar Kerajaan melepas wilayah ’sulit’ itu untuk berada dalam pengaturan kolonial dengan sedikit kompensasi untuk dibayarkan kepada kerajaan.

Pengaruh syiar agama Islam, politik kolonial dan kemudian juga misi Kristen membuat masyarakat Kutai kemudian terkotak-kotakkan baik dalam kategorisasi berbau etnis, agama dan geografis dengan segenap variannya. Mulai muncul istilah Kutai/Melayu/Halo’ vs Dayak, Islam vs Kafir, Islam vs Kristen , juga istilah pesisir vs pedalaman. Kategorisasi seperti ini kemudian menjadi penanda dalam perihal kebudayaan dan kesenian. Di mana dalam pentas perayaan Erau dan pentas-pentas lainnya muncul istilah :

  • Seni Budaya Pesisir.
  • Seni Budaya Pedalaman.
Selain dua kategori diatas muncul pula kategori Seni Budaya Keraton. Dan tentu saja dibanding dengan dua kategori diatas seni budaya keraton yang dipandang sebagai seni kelas tinggi, halus dan tidak sembarang untuk ditampilkan. Istilah seni keraton merujuk pada jenis kesenian (dan kebudayaan) yang bertumbuh dalam lingkungan keraton atau kelompok bangsawan. Sedangkan istilah pesisir dan pedalaman lebih merujuk pada geografi dan sistem religius masyarakatnya. Kesenian pesisir adalah jenis-jenis seni budaya yang tumbuh dalam kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai suku Kutai. Seni budaya mereka bercorak melayu atau bernafaskan Islam. Sementara istilah kesenian pedalaman disematkan kepada kelompok masyarakat yang disebut sebagai orang pedalaman atau suku Dayak. Seni budaya mereka dianggap berbaur dengan kepercayaan animisme dan dinamisme meski sebagian besar kemudian memeluk agama Kristen.

Dalam perayaan Erau, ketiga kategori kesenian ini selalu ditampilkan bersama meski dalam tempat yang berbeda. Akan tetapi adat, tradisi dan kebudayaan keratonlah yang utama atau masuk sebagai acara inti. Sementara kesenian kelompok pesisir dan pedalaman masuk dalam kategori acara tambahan, yang sifatnya tidak mutlak artinya jika ditiadakan tidak mempunyai konsekwensi apa-apa terhadap jalannya Erau.

Dalam keterangan lebih lanjut, Aji Surya Dharma menuliskan sejak tahun 1971 Erau bukan lagi merupakan upacara adat kesultanan sebab pelaksanaan telah diambil alih oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Erau mulai saat itu dirayakan sebagai bagian peringatan HUT berdirinya Kota Tenggarong yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara. Erau sebagai adat keraton (jaman kerajaan/kesultanan) yang telah mentradisi selama berabad-abad sebenarnya memang telah berakhir dengan ditetapkannya Kutai Kartanegara sebagai daerah tingkat II (Kabupaten). Dalam konteks pemerintah daerah Erau kemudian dipandang sebagai alat atau sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya, pembinaan dan pengembangan kesenian daerah sebagai bagian dari khasanah budaya nasional. Masuknya Erau dalam ‘calendar event’ pemerintah daerah secara otomatis akan merubah kepentingan, tekanan, nilai-nilai spiritual dan ritualita perayaan Erau itu sendiri.

Peralihan Erau ke tangan pemerintah daerah tentu saja bukan tanpa sebab. Pemerintah daerah mempunyai kepentingan untuk mengenggam Erau dalam tangan ’kekuasaan’ nya. Sebab selama berabad-abad Erau identik dengan Kerajaan/Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Erau merupakan tanda hubungan antara wilayah kekuasaan dan rakyat dengan Raja/Sultan. Dengan dilaksanakannya Erau oleh pemerintah daerah, maka bukan hanya riwayat Kerajaan/Kesultanan yang tamat melainkan juga hubungannya dengan rakyatpun habis sudah.

Kondisi seperti ini pernah dipertanyakan oleh Bihaddy Arss (alm), seorang spiritualis yang bergelar Raden Setia Sentana yang menilai perayaan Erau dalam rangka HUT Kota Tenggarong kurang memberi perhatian pada acara adat. Akibatnya perhatian masyarakat lebih kepada acara opening ceremony. Baginya perayaan Erau model seperti ini merupakan kekeliruan yang harus diluruskan dengan mengembalikan menjadi perayaan Erau adat yang sebenar-benarnya.

Penilaian Bihaddy Arss ini menarik untuk ditelaah lebih jauh menyangkut apa yang dimaksud dengan Erau Adat?. Jika dilihat perayaan Erau pada wilayah publik bisa dikatakan sebagai acara kenegaraan dengan demikian keterlibatan publik/masyarakat adalah keterlibatan pasif. Dengan demikian Erau Adat sebenarnya merupakan milik dan kepentingan Kerajaan/Kesultanan untuk menjadi penanda hubungan/komunikasi politik-kultural dengan rakyat/masyarakatnya. Dengan demikian pada mulanya Erau bukanlah murni sebagai sebuah acara kebudayaan (adat) semata tanpa muatan politik dan kekuasaan. Peralihan sistem kekuasaan dari bentuk kerajaan/kesultanan ke pemerintahan daerah tingkat II sebenarnya diputuskan atas dasar keberatan aktivis nasionalis di Kalimantan Timur saat itu yang tidak menghendaki penetapan Kutai sebagai Daerah Istimewa dimana secara turun temurun kepemimpinannya akan ada di tangan kesultanan. Para aktivis nasionalis tidak menghendaki kepemimpinan feodal karena dipandang tidak sesuai dengan nilai demokrasi. Kabupaten Kutai yang beribukota sama dengan Kesultanan Kutai Kartanegara yaitu Tenggarong dengan sendirinya mewarisi tradisi perayaan Erau. Namun tentu saja Erau dalam konteks yang berbeda. Erau oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai dirayakan sebagai bagian dari HUT Kota Tenggarong sejatinya adalah Erau baru meski susunan atau model acaranya sebagian besar mengacu pada perayaan Erau Kerajaan.

Perayaan Erau dalam konteks seperti pada akhirnya memang menimbulkan problematika tersendiri. Meski dari hari ke hari perayaan Erau makin meriah dan meluas jangkauannya namun segenap polemik tetap senantiasa menyertainya.Erau sebagai salah satu puncak kebudayaan Kutai (Kalimantan Timur) memiliki akar yang kuat dalam sejarah masyarakatnya. Meski senantiasa mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, namun dalam masa pemerintahan Bupati Syaukani HR guncangan terhadap Erau terasa sangat deras. Erau ditempatkan dalam bayang-bayang masa lalu, masa kejayaan Kerajaan Kutai Mulawarman dan Kutai Kartanegara. Erau dengan segala pernak-perniknya disimbolkan sebagai kebangkitan kebudayaan Kutai, symbol pemersatu antar masyarakat yang plural dan tahap menuju percaturan wisata budaya global. Dalam pandangan Anhar Gonggong, antropolog dan sejarawan yang menyaksikan Erau/Festival Keraton Nusantara tahun 2002 menyatakan perayaan ini tak lebih dari sebuah event budaya biasa. 


Namun dalam penuturan lebih lanjut kepada harian Republika dikatakan bila ditinjau dari aspek antropologi, Festival Erau dan FKN punya makna mendalam. ''Keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kebermacaman sejarah bangsa kita,'' katanya. Kebermacaman sejarah tersebut, lanjutnya, kemudian berproses hingga menjadi Indonesia yang multietnis dan budaya. Keterkaitan ini menumbuhkan kesadaran perlunya memelihara budaya untuk mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi. Anhar mengakui banyaknya kesultanan dan kerajaan di tanah air saat ini tidak lebih dari sekadar simbol kekayaan dan kekuatan sejarah masa silam. Sebab kini, kesultanan yang ada sudah tidak punya pengaruh lagi di Indonesia. Kendati demikian, katanya, keberadaan mereka tidak lantas dikesampingkan. Pengaruh para sultan dan raja diakui masih tetap ada di lingkup masyarakat sekitar. Oleh karenanya, adat istiadat dan kebiasaan masing-masing kesultanan harus dipelihara, terutama sebagai simbol pemersatu.

Ungkapan Erau sebagai simbol pemersatu mungkin bisa dicapai dalam bentuk fisik. Artinya sebagai sebuah ruang, Erau adalah tempat bagi berbagai kesenian, adat budaya dan olahraga tradisi tampil bersama berbaur, bersanding dengan aneka ritus modern kontemporer lainnya. Erau tetap tampil sebagai pertautan erat antara penduduk asli dan pendatang sebagaimana terenda berabad lamanya. Syaukani HR secara tegas mengatakan ”Esensi Erau bukan semata-mata merupakan pesta yang menampilkan seni dan budaya, tetapi mengandung makna persatuan, kesatuan dan perdamaian”. Persoalannya apakah benar demikian?. Fakta menunjukkan bahwa pelaksanaan Erau yang kemudian batal di tahun 2004 dan seterusnya sampai sekarang justru karena Erau tak mampu mempersatukan kepentingan para pihak (pemerintah/bupati dan kerabat keraton).

Cerita lain misalnya soal pementasan Damarwulan yang sepi penonton dan kemungkinan seni tradisional lainnya akibat kalah bersaing dengan penampilan artis-artis ibukota serta pertujukan dari luar tentu membuat makna persatuan, kesatuan dan perdamaian yang dibangun atas narasi sejarah besar menjadi sulit untuk dirasakan. Budi Warga, pemerhati seni budaya Kukar dikatakan Erau semakin jauh dari tradisi karena yang paling menonjol justru sisi kontemporernya. Tarian massal kreasi baru hasil, karnaval atau pawai, pertunjukkan musik pop, rock dan dangdut, pesta lampion, pesta kembang api, bazar dan lain-lainnya kesemarakkannya mampu menenggelamkan paduan oleh suara dan gerak upacara, seni tradisi yang dalam persepsi kebanyakan orang dipandang monoton.



Mengulur naga ke Sungai
Hanya ini tidak berarti yang tradisional tidak menarik lagi. Masih ada bagian utama dari upacara Erau yang masih menyedot perhatian yaitu pada bagian penutup dimana disana akan dilaksanakan ritual mengulur naga yang dilanjutkan dengan acara siram-siraman air atau balimbur. Dalam upacara ini seekor naga berkerangka bambu sepanjang 13,5 meter berkepala dan berekor kayu lempong akan dililit dengan kain kuning dan diberi sisik warna-warni. Ada 5 – 7 lekukkan dan dibawahnya dipasang kaki sebagai penyangga agar naga itu bisa berdiri.


Dewa Pangkon dan Dewa Balian akan mengiringi turunnya naga itu dari Kedaton/Istana menuju dermaga untuk kemudian dinaikkan diatas kapal yang akan membawanya ke Kutai Lama dimana akan diadakan acara beluluh bagi para pejabat atau sesepuh yang akan dieraukan. Mereka yang akan dieraukan duduk di balai Tambak Karang. Setelah ditaburi tepung tawar oleh petugas adat, maka air tuli yang dibawa oleh Pangkon akan diserahkan kepada sesepuh untuk kemudian dipercikkan kepada para hadirin. Percikan air itu menandai mulainya acara Balimbur.

Bunyi gamelan terus dibunyikan mengiringi keberangkatan kapal untuk melakukan perjalanan bolak-balik sebanyak 7 kali antara jembatan Tenggarong dan Kutai Lama sebagaimana diriwayatkan dalam legenda Kutai. Setelah itu perlahan naga diturunkan ke sungai. Pangkon akan memotong kepala naga untuk disimpan dan digunakan pada tahun berikutnya. Masyarakat yang berada di sekitar tempat menghanyutkan naga akan memperebutkan kain kuning pembungkus naga yang dipercaya mendatangkan berkah.


Siram-Siraman Air
Acara siram-siraman yang dipercaya menjadi simbol membersihkan diri dari kotoran, kejahatan dan niat-niat jahat yang sering menguasai seseorang serta memberi kekuatan untuk menangkal marabahaya dan malapetaka yang datang sewaktu-waktu akan berakhir pada pukul enam sore. Dengan selesainya balimbur maka usai sudah, namun dalam keadaan yang basah kuyub dan tubuh mengigil karena dingin mulai menyerang banyak muda-mudi tersenyum gembira dalam hati sebab balimbur telah memberi kesempatan untuk berkenalan dengan pujaan hati yang moga saja esok bisa berjodoh dengannya.

Upacara mengulur naga dan balimbur (saling siram) mungkin merupakan bagian kecil dari ritualita Erau yang mengisi ruang batin masyarakat Kutai. Meski aksentuasinya tak begitu keras, suara-suara seputar dampak kosmologis akibat tidak dilakukannya Erau tertangkap juga. Nila seorang aktivis mahasiswa yang tengah studi di Unikarta mengatakan kemungkinan dampak akibat tidak ada Erau memang ada. Dia menyebutkan kejadian (kesialan dan bencana) yang beruntun, seperti kebakaran, orang tengelam di sungai Mahakam.



Kalimantan Selatan
Dengan Wisata Budaya Tradisi Baayun Maulid
Baayun

Hal menarik yang perlu kita angkat dalam kegiatan ini adalah apakah Baayun Maulid sebagai kegiatan ritual ataukah prosesi budaya? Jika kita menyebutnya ritual Baayun Maulid, berarti ia terkait dengan paham, ajaran, keyakinan suatu agama, yang memiliki konsekuensi tertentu bagi mereka yang melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tetapi jika kita menyebutnya prosesi budaya, maka ia hanyalah sebuah kegiatan budaya yang sudah mentradisi, membumi dan biasa dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat. Selama ini kita merayakan Maulid Nabi Muhammad hanya sebatas shalawatan, rebutan buah-buahan seperti yang terjadi di Sumenep, Madura, jadi anak-anak atau bayi tidak bisa memperingati hari Maulid. Tapi lain halnya di Banjarmasin yang sejak dulu menjadi tradisi turun temurun, sampai memiliki nama tradisi yang khas yaitu Baayun Maulid. Proses tradisi tersebut diayun langsung oleh masing-masing ibunya dengan tujuan untuk mendapatkan keberkahan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang lahir pada bulan Maulud. Bayi dimasukkan dalam ayunan dari tapih bahalai (kain batik panjang) sebanyak tiga lapis. Di atas ayunan, diberi hiasan selendang warna warni dan janur. Bayi-bayi itu kemudian diayun sambil dialunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dulu tradisi ini hanya diselenggarakan di kampung-kampung. Namun dengan perkembangan budaya dan keilmuan, kini sebagian masyarakat Kalsel melaksanakannya dalam skala yang cukup besar pada beberapa tempat. Jadi tidak heran kalau tradisi tersebut berhasil tercatat masuk dalam rekor Museum Dunia Indonesia (MURI) karena diikuti 1.544 peserta, mulai bari dari umur empat hari hingga orang tua berumur 75 tahun. Inilah tradisi unik yang lestari hingga sekarang. Tradisi Baayun Maulid ini bisa bertahan dengan baik karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar. Jadi tidak heran kalau sampai sekarang tradisi budaya yang hidup seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya Kalsel, dan sejumlah obyek wisata alam. 

Tradisi sebenarnya berasal dari masyarakat Dayak pada waktu itu, setelah masuk kewilayah Kalimantan Selatan pada waktu itu Islam baru masuk di Kerajaan Banjar yang dipimpin oleh Sultan Suriansyah, kegiatan itu kemudian dilangsung dengan membacakan syair-syair Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagai sebuah tradisi yang setiap tahun digelar, Baayun Maulid ini sarat dengan makna sejarah, nilai filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang unik untuk dikaji secara komprehensif. Akulturasi inilah kemudian menjadi tradisi yang terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam. Sebab bagaimana pun, tradisi Baayun Maulid merupakan sebuah tradisi yang dapat dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat. Bagaimana pun tradisi kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam. 

Baayun khas Kalimantan Selatan
Dengan melihat konteks seperti, kita akan tetap mampu menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan teladan dalam setiap aspek kehidupan. Realitas ini menjadi penanda dan pelajaran penting bagi kita sekarang, bahwa kehadiran kita sebagai pemimpin untuk dakwah pada prinsipnya tidak hanya menjadikan manusia yang didakwahi sebagai seorang Muslim, tetapi juga menjadikan spirit, etos, budaya, adat-istiadat, prilaku, pola hidup, sistem, dan semua yang melingkupi kehidupan masyarakat agar sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, jika gerakan menyeru manusia kepada ajaran Islam agar mereka menjadi seorang muslim yang diistilahkan dengan “dakwah”, sedangkan gerakan untuk menjadikan Islam sebagai pola dasar serta pijakan bagi kehidupan manusia disebut dengan istilah “Islamisasi”. 

Baayun
Inilah yang disinggung oleh al-Quran dengan perintah agar kita masuk kedalam Islam secara kaffah, tidak hanya keyakinan akan tetapi juga sistem kehidupan. Nilai utama yang hendak ditanamkan dalam tradisi Baayun Maulid dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulid tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi tradisi kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosio-kultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya. Atau oleh Hussein Umar (2003) dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat. Karenanya pada akhirnya tradisi kultural ini menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami konteks masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam (Munir Mulkhan, 2003. Sehingga dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi tersebut dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.

kesenian dan tradisi budaya haru terus dilestarikan dan dijaga agar tidak punah dimakan zaman. perlunya peranan baik masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan.



Rabu, 20 Juni 2012

Cara Merawat Hardisk

Hard disk adalah salah satu komponen yang tidak terpisahkan dalam sistem komputer zaman sekarang. Mulai dari komputer, laptop maupun notebook  hingga mesin sekelas mainframe dan superkomputer menggunakan komponen hard disk sebagai media penyimpanan data atau filenya.

Hard disk pertama kali ditemukan pada dekade 1956-an. 

Hard Disk

Spesifikasi:

IBM 305 RAMAC (Random Access Method of Accounting and Control) 1956

1. Kapasitas: 4,8 MB
2. kecepatan rotasi: 1.200 rpm
3. Harga Sewa: $3.200 per bulan (1957)
4. Pengguna bisnis pertama: Chrysler's MOPAR Division (1957)
5. Jumlah unit yang pernah diproduksi: lebih dari 1000 unit hingga tahun 1961



Hard Disk External
Hard Disk Internal
Cara merawat Hard Disk
  1. Menjaga mesin di dalamnya yaitu dengan cara tidak menjatuhkan hard disk.
  2. Jangan mendekatkan hard disk dengan barang atau alat yang berbau mangnet.
  3. Usahakan dalam mengirim atau menghapus data tunggu 1 data selesai terhapus dengan kata lain satu persatu.
  4. Jangan menaruh hard disk dengan posisi miring usahakan taruh hard disk dengan posisi datar.
  5. Pilihlah hard disk dengan kualitas yang bagus , Perfomen dan mempunyai keandalan.

Minggu, 17 Juni 2012

Cara berhenti merokok


Sedikit banyak coba berbagi dengan teman-teman dari pengalaman teman-teman ku tentang cara berhenti merokok yang pertama.

Analisis Kebiasaan. Lakukan analisis atas kebiasaan-kebiasaan merokok yang telah dilakukan selama ini. Misalnya:
  1. - Kapan waktu tersering Anda untuk merokok
    - Kapan Anda secara otomatis ingin merokok
    - Hasil analisis ini akan membantu dalam mengerem keinginan merokok. 
  2. Susun Daftar Alasan
    Lakukan segala hal yang membuat Anda tidak kembali merokok. Selalu ingat alasan-alasan yang mendasari Anda untuk tidak merokok. Jika perlu susun daftar alasan itu.
    - Menghindari kanker, gagal jantung, gangguan pencernaan
    - Kehidupan sosial yang lebih baik
    - Ingat kesehatan dan kepentingan anak/keluarga
    - Makan lebih enak
Cara berhenti merokok yang ke dua yaitu :



Langsung Berhenti. Pilihlah sebuah hari di mana Anda akan berhenti. Dan pada hari itu, langsung berhenti total tanpa melakukan tahapan-tahapan. Umumkan rencana Anda kepada orang-orang dekat Anda agar mereka bisa membantu.

Waspada Pada Hari-Hari Awal. Hari-hari awal akan terasa sangat berat. Cobalah mengalihkan perhatian dengan mengkonsumsi permen atau permen karet tanpa gula. Sementara waktu, kurangilah kegiatan yang berkaitan dengan rokok, seperti pergi ke bar.

Nikmati Hidup. Uang yang seharusnya dipakai untuk membeli rokok dapat dipakai untuk membeli hadiah bagi diri sendiri, seperti membeli buku, membeli kaset, nonton bioskop, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Konsumsi Rendah Kalori. Selama minggu-minggu pertama (sampai kira-kira empat minggu), makanlah makanan yang mengandung kalori rendah. Juga minumlah banyak air putih.

Sedikit tips cara berhenti merokok, semoga bermanfaat dan salam sehat buat semua.


Sabtu, 16 Juni 2012

Rokok itu Rokok

 
             Rokok bukan kata asing lagi yang kita dengar baik dikalangan paling bawah dan bahkan paling atas mulai dari anak-anak bahkan orang dewasa. Semakin tahun angka pengguna rokok terus bertamabah bahkan kita dapat langsung melihat dengan mata kepala kita sendiri anak-anak Sekolah Dasar (SD) bahkan pelajar (ABG) sudah banyak yang mengkonsumsi baik dihalte-halte, saat berkendaraan, dalam angkot tanpa sepengetahuan Orangtua mereka. Oleh karena pentingnya menyadarkan mereka tentang bahayanya merokok buat yang mengkonsumsi maupun yang hanyan terhirup asap rokoknya saja. Racun pada Rokok. Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Efek Racun. Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami risiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):
  1. 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan
  2. 4x menderita kanker esophagus
  3. 2x kanker kandung kemih
  4. 2x serangan jantung
  5. Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.
Batas Aman. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

TIDAK ADA BATAS AMAN BAGI ORANG YANG TERPAPAR ASAP ROKOK.

Kanker Paru-paru Tentang Kanker. Anak-anak yang lahir tahun 1985, diperkirakan sepertiganya akan pernah menderita kanker, dan kira-kira seperempatnya akan meninggal karena kanker. Kita semua memiliki keluarga atau teman yang mengidap kanker. Kanker pembunuh terbesar, yaitu kanker paru-paru, membunuh hampir 90% penderitanya, atau hampir 30% dari seluruh kematian akibat kanker. Namun sesungguhnya justru kanker paru-parulah yang paling mudah dicegah. Surver dalam beberapa dekade menunjukkan bahwa satu-satunya penyebab mayoritas kanker paru-paru adalah asap rokok.

Karsinogen Zat-zat karsinogen (pemicu kanker) yang terkandung pada rokok adalah:
  1. vinyl chloride
  2. benzo (a) pyrenes
  3. nitroso-nor-nicotine
  4. Satu-satunya zat yang lebih berbahaya daripada asap rokok dalam memicu kanker paru-paru adalah zat-zat radioaktif. Itu pun jika dimakan atau dihidap dalam kadar yang cukup.
Efek Kanker Paru-Paru. Kematian umumnya bukan terjadi karena kesulitan bernafas yang diakibatkan oleh membesarnya kanker, tetapi karena posisi paru-paru dalam sistem peredaran darah menjadikan kanker mudah menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran metastase ke arah otak dan bagian kritis lainnya lah yang mengakibatkan kematian itu. 90% penderita meninggal dalam 3 tahun setelah diagnosis.

Korelasi Dengan Rokok. Industri rokok menganggap bahwa kaitan antara jumlah penderita kanker paru-paru dengan tingginya konsumsi rokok hanya merupakan kebetulan. Berbagai penelitian menunjukkan korelasi yang sangat positif dan sangat konsisten bahwa satu-satunya penyebab kanker paru-paru secara umum adalah konsumsi rokok.

Rokok pada kehamilan. Kehamilan adalah masa kritis bagi janin yang sedang dikandung. Janin menerima pasok zat makanan hanya dari tubuh ibunya melalui placenta. Selama waktu kehamilan, terjadi masa kritis yang berbeda-beda dengan efek yang berbeda pula.

Efek Rokok. Racun rokok yang diserap oleh ibu (baik sebagai perokok maupun perokok pasif), meningkatkan resiko sebagai berikut pada janin:
  1. pertumbuhan terhambat
  2. komplikasi selama pertumbuhan
  3. lahir prematur
  4. berat badan rendah
  5. kesulitan bernafas saat lahir
  6. sakit dalam hari-hari pertama setelah lahir
  7. meninggal mendadak dalam hari-hari pertama setelah lahir
Atersoklerosis

Penyumbatan Pembuluh Darah. Atherosclerosis adalah akumulasi dalam arteri, oleh zat-zat lemak, otot halus abnormal, serta tumpukan kolesterol. Akibat akumulasi ini, terjadi penyempitan pembuluh darah, dan bahkan dapat terjadi penyumbatan.

Proses ini disebabkan oleh:
a. faktor keturunan
b. konsumsi rokok
c. tekanan darah tinggi
d. konsumsi kolesterol

Pencegahan
a. hentikan konsumsi rokok
b. menjauh dari perokok
c. kurangi konsumsi kolesterol
d. lakukan terapi hipertensi

Jenis Asap Rokok. Ada dua macam asap rokok yang mengganggu kesehatan.
  1. Asap utama (mainstream), adalah asap yang dihisap oleh si perokok
  2. Asap sampingan (sidestream), adalah asap yang merupakan pembakaran dari ujung rokok, kemudian menyebar ke udara
  3. Asap sampingan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, karena tidak melalui proses penyaringan yang cukup. Dengan demikian pengisap asap sampingan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan kesehatan akibat rokok.
Perokok Pasif. Perokok pasif adalah orang-orang yang tidak merokok, namun menjadi korban perokok karena turut mengisap asap sampingan (di samping asap utama yang dihembuskan balik oleh perokok).

Perokok pasif memiliki resiko yang cukup tinggi atas kanker paru-paru dan jantung koroner, serta gangguan pernafasan. Bagi anak-anak di bawah umur, terdapat resiko kematian mendadak akibat terpapar asap rokok. Setidaknya tercatat 4000 kematian perokok pasif per tahun di US.

Upaya Hukum. Mungkinkah ada upaya hukum untuk menuntut perokok?



Salam hidup sehat
Bersepeda, olahraga, konsumsi 4 sehat 5 sempurna dan semangat

Senin, 11 Juni 2012

Oleh Oleh Khas Kalimantan

Kalimantan Timur merupakan wilayah yang potensi hutan alam, wisata, seni dan budaya yang luar biasa. Harus diakui bahwa pengunjung baik wisatawan local mau pun asing tertarik untuk bertamasya atau berwisata. Setiap hari Sabtu/Minggu dan liburan nasional kita dapati pengunjung yang datang berombongan bersama sanak keluarga, kerabat, organisasi dan kantor ketempat-tempat wisata di Kalimantan Timur khususnya di Kota Samarinda. Selain itu banyak para wisatawan local maupun asing yang menyempatkan diri untuk membeli Oleh-Oleh Khas Kalimantan baik itu makanan ,kerajinan dan sovenir khas Kalimantan yang di buat oleh warga Kalimantan.  
Di Samrinda sendiri mempunyai pusat penjualan makanan, kerajinan dan souvenir khas Kalimantan yang bernama EAST KALIMANTAN SENTER berada dikawasan perkotaan di jalan Antasari No 1 Samarinda Kalimantan Timur 75117 yang dikelola oleh Bunda Nirma Ismarayani. Showroom khas Kalimantan ini buka dari jam 06.00 WITA sampai jam 24.00 WIB dengan desain Outlet bernuansa tradisional Kalimantan dan moderen. Yang menyediakan berbagai macam Oleh-Oleh KhasKalimantan , ketika kita memasuki Outlet tersebut kita akan disapa dengan sentuhan Musik tradisional Sampe Kalimantan dan ukiran-ukiran kayu khas Kalimantan untuk memberi kenikmatan tradisional. Selain itu outlet ini melayani pesana antar dalam pembelian paket untuk semua produk dan siap kirim untuk dalam dan luar kota yang pembayaranya lewat debit ATM yang pemesananya
Dengan cara menghubungi.
Contak Person : 081347333337/ 081347337333
Facebook          : East Kalimantan
Twitter              : @eastkalimantan
Tujuan dari adanya EAST KALIMANTAN CENTER  tidak lain untuk mempermudah para wisatawan local maupun asing untuk berbelanja Oleh-Oleh Khas Kalimantan dan juga tersedianya cafe,wifi dan berjualan buku bacaan.

Ruanga di EAST KALIMANTAN CENTER
Oleh-Oleh Khas Kalimantan yang tersedia di EAST KALIMANTAN CENTER diantaranya :

AMPLANG
Amplang adalah kerupuk yang terbuat dari daging ikan Pipih atau ikan Tengiri, tepung tapioka dan bumbu yang merupakan oleh-oleh yang paling khas dari kota Samarinda. Sedangkan kuku macan adalah amplang yang dibentuk menyerupai kuku macan.

EAST KALIMANTAN CENTER
Model dan rasanya berbeda-beda ada yang model biasa memanjang da nada modelnya seperti kuku macan ini yang banyak digemari para wisatawan local maupun asing
Untuk harganya juga bermacam-macam tergantung berat/isi, rasa dan model nya mulai dari harga Rp 6.000 – Rp 50.000.

LEMPOK DURIAN
Lempok durian/dodol durian merupakan oleh-oleh yang paling khas dari kota Samarinda. Terbuat dengan bahan utama durian.
EAST KALIMANTAN CENTER
Bagi yang suka makan durian wajib mencobanya. Dengan parian berat dan bentuk harga mulai dari Rp 10.000 – Rp 28.000.


KERUPUK IKAN
Kerupuk ikan merupakan makanan khas Kalimantan yang terbuat dari ikan gabus atau ikan pipih yang dicampur dengan bumbu-bumbu yang lainnya. Kerupuk ini sangat gurih dan cocok untuk buah tangan untuk keluarga maupun kerabat lainnya.
EAST KALIMANTAN CENTER
Cocok buat pelengkap sajian makanan kita yang harganya berkisaran mulai dari Rp 7.000 – Rp 23.000. Masih banyak lagi makanan khas Kalimantan lainnya yang di jual seperti Abon ikan, keripikbuah-buahan, tape ketan dan lain-lainnya . Jika ingin membeli atau mencobanya silahkan kunjungi East Kalimantan Center.

Selain makanan buah tangan khas Kaltim ada juga kerajinan tangan seperti Sarung Samarinda, Manik-manik, Batik Kalimantan, Ukiran kayu, Batu permata, Kerajian rotan, Kerajinan kulit kayu dan Tshirt Kalimantan.

SARUNG SAMARINDA
Sarung Samarinda sudah terkenal keseluruh pelosok tanah air Indonesia sejak jaman Belanda. Bahkan sampai ke mancanegara, diantaranya Timur Tengah, Asean dan Afrika. 
Sarung tenun Samarinda adalah hasil karya para perajin suku Bugis yang menetap di wilayah Kalimantan timur sejak tahun 1710 sekarang berada di kecamatan Samarinda Seberang, kota Samarinda. Sarung samarinda merupakan sarung yang dibuat oleh UKM-UKM yang berada di Kota Tepian yang dibuat secara manual ( Alat tradisional ) maupun automatis ( Alat Moderan ) yang harganya berfariasi mulai dari harga Rp 75.000 – Rp 750.000. Cocok untuk : acara-acara resmi, seragam, dijadikan pakaian pesta/undangan, souvenir, accesoris pakaian dan lain-lain.

MANIK-MANIK DAN KERAJINA ROTAN
Kalimantan Timur terkenal dengan produk kerajinan anyaman-anyaman, baik dari manik dan rotan yang dianyam sedemikian rupa dengan mengaplikasikan motif / ornamen dari berbagai macam suku Dayak yang ada di propinsi Kalimantan Timur baik berupa tas, dompet, sal, cincin , gantungan kunci dan lain-lain. 
EAST KALIMANTAN CENTER

Untuk anyaman rotan dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dengan tetap mengaplikasikan motif / ornamen dari masing-masing suku dayak yang ada di Kalimantan Timur dengan hasil produk berupa tikar, anjat, dan berbagai macam tas.

Manik dan kerajinan rotan berkisaran harga mulai dari Rp 2.000 - Rp 650.000 tergantung motif dan tingkat kesulitan pengolahannya.

                                                                                                                                                           
BATIK KALIMANTAN
Budaya bangsa Indonesia sangat beragam, baik corak maupun jenisnya, salah satu kerajinan yang ada di Kalimantan Timur adalah batik khas motif dayak kalimantan Timur .

EAST KALIMANTAN CENTER
Batik khas dayak Kalimantan merupakan hasil keterpaduan antara budaya jawa dan dayak, sehingga menghasilkan nilai seni yang tinggi dan disukai masyarakat, baik lokal maupun luar negeri. Motif batik Kalimantan di implikasikan lewat goresan di kain-kain. Harganya Batik Kalimantan berpariasi tergantung model dan bahanya berkisar Rp 165.000 - Rp 1.600.000.

KERAJINAN KAYU DAN KULIT KAYU                                                                       
Seni ukir dan seni pahat pada media kayu masyarakat dayak Kalimantan Timur sejak lama digunakan. Produk dari seni pahat dan ukir ini banyak dijual dalam bentuk piring, mangkok, dakon, ornamen pintu, sketsel dan interior diantaranyan.


EAST KALIMANTAN CENTER
Selain itu kulit kayu juga di gunakan untuk pembuatan tas, hiasan meja , bahkan baju.

Harga ukiran dan kulit kayu  yang di olah ini tergantung motif dan bahannya kisaran harga mulai dari Rp 30.000 – Rp 450.000.

TSHIRT KALIMANTAN
East Kalimantan Center juga menyediakan baju-baju khas Kalimantan baik itu baju batik dan Kaos untuk wanita maupun pria, untuk yang muda maupun yang tua.

EAST KALIMANTAN CENTER
Selain itu kita juga dapat pesan pembuatannya untuk itu jangan segan-segan untuk berkunjung ke East Kalimantan Center untuk membeli Oleh-Oleh Khas Kalimantan. Jika berkunjung/berwisata ke Kalimantan jangan lupa membeli Oleh-Oleh Khas Kalimantan ini. Sebagai kenang-kenangan maupun hadiah buat teman-teman dan sanak saudara.


Pantun : 
       Oleh-Oleh dari samarinda
       Ada Amplang dan Lempok Durian
       Boleh saja keliling samarinda
       Tapi jangan lupa Oleh-Oleh Khas Kalimantan hanya di EastCenter Kalimantan.

Kalau ada sumur diladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umur panjang
Jangan sungkan untuk bertamasya ke samarinda lagi

EAST KALIMANTAN CENTER

PUSAT OLEH_OLEH KERAJINAN 
,SOVENIR, ACCESSORIES DAN MAKANAN KHAS KALIMANTANTIMUR

Salam kenal dari Blogger Samarinda
Sukses Selalu For ALL