Kesenian dan tradisi yang harus terus di jaga beberapa tradisi yang paling indonesia khususnya di Borneo yang coba kita lihat dan amati. Acara yang luar biasa yang menjadi kultur yang menarik untuk di ikuti acaranya dan diabadikan. beberapa diantranya :
Kalimantan Barat
Dengan Wisata Budaya Tradisi Mempawah
 |
Robok-Robok
|
Perahu bermuatan pangeran ratu melaju tenang diatas permukaan air Sungai
Mempawah. Perahu lancang kuning yang tersohor itu bertolak dari Keraton
Amantubillah. Setibanya di muara, seorang punggawa keraton
mengumandangkan azan. Selepas itu, putra mahkota dan punggawanya
membuang sesajain ke laut sebagai talak bala. Begitulah inti kegiatan
robok-robok yang berlangsung di Kuala Mempawah,.
Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong memadati lapangan di tepi
Sungai Mempawah, sekitar 200 meter dari muara. Menjelang siang
pengunjung yang datang semakin membludak. Bukan cuma warga Kuala
Mempawah, tapi juga hanyak yang datang dari berbagai kampung di
Kabupaten Pontianak. Bahkan tak sedikit warga Kota Pontianak yang
sengaja datang dengan menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam.
Sejumlah pasangan muda-mudi datang menggunakan
sepeda motor. Beberapa keluarga menggunakan mobil pribadi. Ada juga
beberapa rombongan yang datang menggunakan mobil bak terbuka da
n truk.
Alhasil, sekitar 200 meter dari mulut jalan menuju lokasi terjadi
kemacetan. Terlebih di sepanjang jalan menuju lapangan terdapat
kios-kios para pedagang yang menjajakan berbagai produk, seperti
pakaian, makanan, minuman, aksesoris, vcd, dan sebagainya.
Kendati hari itu cuaca begitu panas, matahari
bersinar terik, namun tak mengendurkan niat orang untuk datang. Tujuan
mereka satu, ingin menyaksikan robok-robok sekaligus berbelanja dan
menikmati hiburan gratis. Beberapa turis asing pun nampak di antara
ratusan pengunjung lokal.
Di lapangan, sejumlah tamu sudah menempati
kursi-kursi beratap tenda besar yang menghadap sungai. Pengunjung yang
tidak kedapatan kursi berdiri di bibir sungai. Tak lama kemudian perahu
kuning yang membawa rombongan Pangeran Ratu dari Istana Amantubillah, DR
Ir. Martian Adijaya Kesuma Ibrahim, MSc melaju di atas permukaan air
Sungai Mempawah, sekitar 20 meter dari tempat para tamu duduk. Ketika
memasuki Muara Mempawah, Pangeran Ratu dijemput oleh putra mahkota dan
sejumlah punggawa keraton dengan menaiki perahu lancang kuning.
Di Muara Mempawah, seorang punggawa keraton
mengumandangkan azan dari atas perahu. Selepas itu, putra mahkota
melakukan ritual buang-buang sesaji ke laut sebagai talak bala.
Selanjutnya, Pangeran Ratu dan permaisuri mendatangi para undangan,
sedangkan putra mahkota kembali ke keraton.
 |
Robok-Robok
|
Perayaan tradisi robok-rohok kali ini agak berbeda,
lebih istimewa daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini,
perayaan yang dipusatkan di Sungai Mempawah dihadiri Raja dan Ratu serta
perwakilan dari sejumlah keraton di Indonesia yang tengah mengikuti
Festival Keraton Nusantara II. Mereka menjadi tamu spesial yang
disertakan melihat langsung perayaan tradisi robok-robok.
Selepas acara seremonial pembukaan Pagelaran Seni
Budaya Keraton Nusantara II dan Festival Seni Budaya Melayu IV
se-Kalbar, para undangan dihibur dengan persembahan tari-tarian khas
Kal-Bar. Ada tarian anging mamiri, khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan.
Kemudian tarian selamat datang khas Melayu yang dibawakan beberapa
penari perempuan dengan mengenakan pakaian berwarna kuning. Dan
dilanjutkan dengan tarian 6 gadis cilik yang sempat mencuri perhatian
undangan.
Usai pembacaan doa penutup, para raja, ratu dan
undangan dijamu oleh Pangeran Ratu makan siang di Istana Amantubillah.
Prosesi makan siang ini menggunakan tradisi saprahan atau makan bersama
khas masyarakat yang tinggal di pesisir. "Dahulu ketika Opu datang di
Memawah belum ada rumah. Mereka kemudian duduk dan makan bersama di tepi
sungai beratap langit. Tradisi ini kemudian dilakukan masyarakat
Mempawah secara turun temurun," tandas Pangeran Ratu Mardan. Usai
bersantap, beberapa undangan melakukan ziarah ke makam Ompu Daeng
Manambon.
Makna perayaan tradisi robok-robok menurut Pangeran
Ratu Mardan sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. "Ketika
itu para pengikut Opu Daeng Manambon, terdiri atas berbagai etnis dan
agama," katanya. Dengan begitu robok-robok diyakini sarat dengan pesan
persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu
merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan
Kota Mempawah.
"Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar.
Bersama-sama mereka membangun Mempawah. Tadi ada makna harmonis antar
etnis dan agama dibalik perayaan robok-robok ini," jelas Pangeran Ratu
Mardan.
Bukti lain dari adanya keharmonisan itu, lanjut
Mardan, bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon. Di makam
tersebut juga terdapt makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir
dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam
etnis lainnya.
Sedangkan Gubernur Kalbar H. Usman Jafar mengatakan
robok-robok merupakan aset pariwisata Kalbar. "Peringatan robok-robok
tahun ini yang disatukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton
Nusantara memberi warna baru untuk meningkatkan seni budaya," kata
Jafar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan
robok-robok yang sudah menjadi salah satu kalender wisata nasional ini
menjadi hihuran gratis masyarakat. Sejumlah hiburan ditampilkan seperti
kontes motor air, busana adat, qasidah, karaoke lagu daerah, hadrah,
albarzanji, panjat pinang, tepuk bantal, tarik tambang, tenis meja, bola
voli, sepakbola anak gawang, lomba sampan, tarian daerah, dan atraksi
kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Pontianak. Kegiatan ini
berlangsung di tepi Sungai Mempawah sejak pagi hingga malam hari.
Robok-robok bagi sebagian masyarakat lokal menjadi
berkah tersendiri. Mereka mendulang rupiah dengan berjualan berbagai
produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar
kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah
pelaksanaan robok-robok.
Perayaan tradisi robok-robok berlangsung setiap
tahun di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Mudah
mencapai lokasi Mempawah. Dari Bandana Supandio, Pontianak tinggal
mencarter taksi atau bus travel. Waktu tempuh sekitar 2 jam.Atau bisa dengan bus umum dari terminal Kota
Pontianak menuju Kuala Mempawah. Jalan yang dilalui beraspal mulus
dengan lalu lintas yang lengang. Kalau letih dan lapar, sepulang dari
menyaksikan robok-robok, bisa mampir di Pondok Pengkang yang menyajikan
makanan khas Melayu dan penganan pengkang atau sejenis lempar
ketan.Suhardi Budpar prov kalbar.
Kalimantan Timur
Dengan Wisata Budaya Tradisi EARU
 |
| Tarian Khas Dayak |
Di
balik itu kesadaran untuk terus menjaga warisan seni budaya leluhur
sebenarnya juga tidak pernah redup. Niat, semangat dan komitment dengan
gampang didengar lewat segenap pidato, visi-misi dan program berbagai
pihak. Dokumentasi juga terus dilakukan dan panggung untuk
mementaskannya juga disediakan. Erau, yang pada awalnya adalah
peringatan untuk merayakan naik tahtanya sang Raja, kini dikenal sebagai
festival tahunan yang menjadi panggung pentas pertunjukkan berbagai
kesenian yang berlatar belakang budaya suku dan sub suku yang tinggal
di wilayah Kutai Kartanegara, mencoba untuk terus bertahan meski masa
depannya masih tampak buram.
Erau
dan Kerajaan Kutai Kartanegara bagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Erau untuk pertama kali dilaksanakan dalam bentuk upacara tijak tanah
dan mandi ke tepian untuk Aji Batara Agung Dewa Sakti pada usianya yang
ke 5. Dia inilah yang kemudian menjadi menjadi Raja Kutai Kartanegara
yang pertama (1300-1325). Penobatan Aji Batara Agung Dewa Sakti menjadi
Raja juga diadakan lewat upacara Erau. Sejak saat itulah Erau selalu
diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai
Kartanegara. Dalam perkembangannya upacara Erau juga diadakan untuk
pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang
dianggap berjasa terhadap Kerajaan.
Selain sebagai upacara
kerajaan, istilah Erau sebenarnya juga dipakai atau dikenal sebagai
sebutan acara atau ritual dalam kehidupan berbagai suku ’asli’ di pulau
Kalimantan. Di Kota Bontang, warga Guntung secara rutin mengelar Erau
Pelas Banua. Menurut sejarahnya Erau Pelas Banua ini telah dilaksanakan
sejak jaman pemerintahan Sultan Sulaiman XVII. Dalam tradisi masyarakat
Dayak juga dikenal perayaan Erau atau Pelas Tahun. Masyarakat Tunjung
Benuaq menyebutnya sebagai Nggugu Tahun. Dan kini perayaan semacam ini
dilaksanakan setiap tahun di Kabupaten Kutai Barat yang ditandai dengan
upacara penombakan kerbau. Masyarakat Kabupaten Berau juga mengenal
perayaan semacam Erau yang disebut dengan Birau.
Kembali kepada
Erau dan keterkaitannya dengan Kutai Kartanegara, Halimi Hadibrata,
dalam studinya atas naskah Salasilah Kutai menemukan dan menyimpulkan
bahwa tradisi Erau dalam Kerajaan Kutai Kartanegara menunjukkan
jenis-jenis upacara adat yang terdiri atas :
- Upacara sepanjang
hayat yang berkaitan dengan fase peralihan dan penyatuan hidup individu
sejak kelahiran sampai dengan kematian.
- Upacara adat kerajaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kemakmuran
Dengan
demikian upacara Erau mempunyai dua domain yakni domain individu dan
publik. Pada wilayah individu adalah upacara adat yang berkaitan dengan
fase hidup sepanjang hayat terdiri atas : Upacara adat kelahiran ,
upacara adat turun ke tanah dan mandi di sungai, upacara adat pemberian
gelar kehormatan, upacara adat perkawinan dan berbelian dan upacara adat
kematian. Sementara pada wilayah publik, upacara adat kerajaan adalah
upacara kenaikan tahta dan kemudian juga pemberian gelar kehormatan.
Erau
versi kerajaan inilah yang amat populer atau dikenal luas oleh
masyarakat baik di dalam maupun diluar Kalimantan Timur. Sehingga
seolah-olah Erau identik dengan perayaan adat di Kabupaten Kutai
Kartanegara semata. Hal mana bisa dimaklumi karena Erau Kerajaanlah yang
menyertai Kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari tumbuh kembangnya
sampai pada peralihan kekuasaan dan bahkan sampai saat ini.
Sejarah
Erau dan Kutai Kartanegara yang tak terpisahkan itu, sama-sama membawa
jejak-jekak percampuran budaya (Multikultural Purba). Dlam paparan lebih
lanjut, Halimi mengungkapkan, baik dalam Erau maupun kerajaan
sekurang-kurangnya bisa ditemukan 3 pengaruh kebudayaan yaitu :
- Kebudayaan Hindu India termasuk kepercayaan lokal (animisme dan dinamisme).
- Kebudayaan Hindu Jawa (Majapahit).
- Kebudayaan Islam (Melayu, Bugis, Banjar).
Keragaman
atau percampuran memang melekat dalam cerita sejarah atas asal-usul
berdirinya kerajaan Kutai Kartanegara. Baik dalam dokumen lama (purba)
maupun telaah para ahli sejarah. Memang tidak ada cerita tunggal tentang
kemunculan kerajaan Kutai. Ada catatan yang mengkaitkan kemunculan
Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pelarian dari Kerajaan Singosari,
namun ada juga yang menghubungkan dengan Kerajaan Majapahit yang
menempatkan otoritas kekuasaan di daerah taklukan. Dalam catatan
berikutnya Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menahklukan dan mengambil
alih simbol-simbol serta kekayaan Kerajaan Kutai Mulawarman. Kerajaan
Kutai Mulawarman adalah kerajaan Hindu tertua yang jauh lebih dahulu ada
di wilayah Kalimantan. Pada masa-masa akhir, kerajaan ini sempat hidup
berdampingan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang baru berkembang.
Fenomena
percampuran dalam Kerajaan Kutai Kartanegara terus berlanjut dalam
bentuk ’perkawinan politik’. Hal ini dilakukan oleh calon raja atau raja
itu sendiri dengan puteri dari Kutai Mulawarman, Kerajaan di Sulawesi
Selatan, Pasir dan lain sebagainya. Tentu ini semua membawa pengaruh
dalam dinamika kehidupan maupun kebudayaan keraton. Dengan demikian jika
Erau dikaitkan dengan Kutai maka akan berdimensi banyak. Kutai bisa
dalam arti wilayah kekuasaan, wilayah kebudayaan dan Kutai sebagai
wilayah etnisitas. Maka Erau sebenarnya sebuah realitas kompleks baik
dari sisi kontinuitas maupun diskontinuitas dalam perjalanan sejarahnya.
Ada
banyak versi tentang Erau. Namun sebagai sebuah perayaan publik, Erau
sebagai mana dituliskan oleh Drs. Aji Surya Dharma berasal dari bahasa
Kutai ’eroh’ berarti ramai, riuh atau suasana yang penuh sukacita.
Secara singkat upacara Erau yang pelaksanaannya dilakukan oleh kerabat
Keraton dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat (petinggi)
yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok
wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak,
buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta
kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan
memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih
Sultan atas pengabdian rakyatnya. Dalam entri kamus Bahasa Indonesia,
Erau diartikan sebagai acara adat di Kutai Kartanegara. Sementara itu
Johansyah Balham dalam cerita roman sejarah ”Runtuhnya Martadipura”
(tahun 2003) menyebutkan Erau sebagai sebuah pesta yang ditunggu-tunggu.
Hari-hari itu segala bentuk ketangkasan (judi) dan minuman keras
seperti dibebaskan. Pemuda-pemudi banyak memanfaatkan kesempatan ini
untuk mencari dan memadu cinta.
Erau memang tidak berdimensi
tunggal. Masing-masing kelompok masyarakat mengartikan berdasarkan
perspektif dan kepentingan mereka. Namun Erau pada wilayah public
sebenarnya lebih mengacu pada rangkaian upacara untuk penobatan raja.
Dalam Salasilah Kutai susunan atau rangkaian acara Erau untuk penobatan
raja digambarkan sebagai berikut :
- Hari pertama : Upacara menjamu
Benua (kota). Maksud dari upacara ini adalah untuk memanggil Sang
Hiyang-Hiyang (yang berada di kayangan dan berjumlah 37) untuk diminta
doa restunya agar acara berjalan lancar tanpa halangan.
- Hari kedua :
Acara beredar. Para belian dan pangkoan diikuti oleh seorang kepala
adat akan berjalan keliling ruangan dalam kenatan sebanyak tujuh
putaran.
- Hari ketiga : Upacara mendirikan ayu. Perlengkapan ayu
diletakkan diatas butiran beras (beras tambak karang) warna-warni dan
dihias dengan daun enau, daun kelapa dan lain-lain. Malamnya diadakan
acara menjoget dan tari ganjur yang diikuti tamu serta raja. Setelah
itu ada upacara naik ayu dan kemudian upacara gajah rendu. Terakhir para
petinggi akan ke pinggiran sungai Mahakam untuk mengambil air tuli. Air
yang ditaruh dalam guci ini akan disimpan dalam ruangan upacara. Raja
berada paling depan dalam iringan untuk membawa air dari sungai ke ruang
upacara.
- Hari keempat, kelima dan keenam : Mengulang upacara hari ketiga.
- Hari ketujuh : Upacara pengambilan air di Tanjung Riwana dipimpin
seorang belian. Air ini kemudian disatukan dengan air tuli. Setelah itu
ada pesta semalam suntuk diikuti seluruh hadirin (pria dan wanita).
Sambil menari-nari mereka saling melempar beras. Acara meriah ini
dihentikan saat fajar menjelang dengan upacara menjala hingga fajar
menyingsing.
- Hari kedelapan : Upacara berjerak. Seekor ayam
dipotong diatas kepala raja, darah ayam kemudian disebar diatas tanah.
Ini yang disebut dengan memelas bumi tujuannya agar negeri makmur,
tanaman subur, rakyat sejahtera. Lalu dilanjutkan dengan upacara
Berumban. Raja dengan badan diselubungi kain kuning dikurung dalam
gulungan tilam. Raja akan bergerak dalam beberapa posisi yaitu hadap
kiri, kanan dan terlentang. Pada setiap posisi tubuh Raja akan
dielus-elus dengan mayang tertundun sebanyak tujuh kali dari kepala ke
kaki dan sebaliknya. Setelah itu Raja akan dimandikan pada balai di
pinggir sungai. Malam harinya Raja akan dipelas dengan tepung tawar
dengan disaksikan para undangan, petinggi dan rakyat seluruh negeri
Kutai Kartanegara. Saat itu Raja akan menegaskan kepemimpinannya dengan
mengatakan ”Hai, orang Kutai akulah Rajamu”. Ucapan ini disambut oleh
semua yang menyaksikan dengan mengatakan ”Pakulun patik Aji”. Dan dengan
demikian selesailah rangkaian upacara Erau selama delapan hari.
Esok
harinya Raja akan bertahta dan kemudian menerima sembah setia dan
ucapan pamit dari seluruh petinggi dari daerah kekuasaannya. Dalam
kesempatan ini Raja kembali meminta kesetiaan tanpa syarat kepada para
petinggi dengan mengatakan ”Hai para orang tua-tua dari sepuluh negeri,
meskipun binimu sendiri, kalau aku benci kepadanya, maka awakpun harus
benci kepadanya”. Ucapan ini dijawab oleh para petinggi dengan kalimat
”Kaula nuwun patik Aji, pakulun patik aji”.
Setelah itu Raja akan
dipelas oleh saudara putrinya. Raja kemudian turun dari tahtanya menuju
guci yang berisi campuran air tuli dan air tanjung riwana. Raja
kemudian membasuh muka, meminum dan berkumur-kumur lalu disemburkan
kepada saudara putrinya. Selanjutnya saudara putrid akan berjoget
diiringi dengan sorak sorai hadirin. Raja kemudian akan ditandu dan
dibawa keluar keliling lapangan sebanyak tujuh kali untuk ditunjukkan
pada rakyatnya. Setelah itu para hadirin dan petinggi akan meninggalkan
paseban dan pulang ke daerah masing-masing.
Rangkaian upacara dan
kegiatan selingan dalam acara penobatan raja ini menimbulkan keramaian
dan keriuhan. Keramaian karena ada banyak orang berkumpul di pusat
kerajaan. Keramaian itu semakin meriah dengan aneka pentas kesenian,
adat dan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada di wilayah
kekuasaan kerajaan. Suasana keramaian dan pesta inilah yang kemudian
tertanam dalam benak dan ingatan masyarakat. Masyarakat tidak terlalu
peduli dengan Erau sebagai sebuah perisitiwa sosiopolitik sebagai mana
diungkapkan oleh Roedy Haryo AMZ, organik dan pemerhati kebudayaan
Kalimantan Timur. Dalam keterangannya dijelaskan bahwa konteks perayaan
Erau adalah kepentingan politik rezim penguasa. Erau dimaksudkan untuk
menjadi penanda legitimasi penguasa, dimana dari sana bisa diukur sejauh
mana seorang penguasa (Raja/Sultan) diterima oleh rakyatnya.
Partisipasi masyarakat, kedatangan para petinggi dari berbagai kelompok
masyarakat (puak) menjadi perlambang diterimanya kepemimpinan penguasa
saat itu oleh mereka. Dalam Salasilah Kutai diceritakan bahwa Erau
merupakan kesempatan pertemuan antara Raja/Sultan dengan para petinggi
dari wilayah-wilayah yang termasuk dalam kekuasaannya. Pada kesempatan
itu akan disampaikan permintaan, petunjuk dan arahan dari sang raja.
Apapun titah dan keinginan sang raja harus dituruti.
Senada
dengan apa yang disampaikan oleh Roedy Haryo AMZ, Halimi Hadibrata
menambahkan bahwa petinggi-petinggi daerah datang bersama rombongan
seraya membawa bekal dan sesembahan untuk Raja (upeti). Dengan demikian
keramaian sendiri bukan diciptakan oleh Raja dan Kerabatnya. Suasana
ramai karena para petinggi datang dengan rombongan besar dimana
didalamnya termasuk para pemasak dan kelompok seniman. Raja menyediakan
tempat dan kesempatan di sekitar istana agar rakyat bisa berkumpul dan
bergembira bersama. Pemberian dan ijin menyangkut tempat dan kesempatan
dari Raja inilah yang kemudian dianggap oleh rakyat sebagai tanda
kebaikan, keramahan dan keterbukaan Raja beserta kerabatnya terhadap
masyarakat umum (biasa). Citra pembauran Raja dan kerabat dengan rakyat
pada perayaan Erau terus direproduksi sampai saat ini.
Padahal
jika kembali pada penjelasan Roedy maupun Halimi, jika Erau diibaratkan
sebagai sebuah dialog kekuasaan, maka Erau merupakan bentuk dialog yang
searah. Keterlibatan masyarakat atau rakyat dalam perayaan itu adalah
keterlibatan pasif, mereka datang sebagai penonton, pengembira atau
pengisi acara. Kembali pada asalnya Erau pada dasarnya adalah perayaan
keraton atau adat istiadat/tradisi Kutai dari golongan bangsawan (dalam
keraton) yang dirayakan secara publik. Kenyataan seperti ini oleh
Cliffords Geertz disebut dengan istilah ’negara teater’, dimana
kekuasaan ditegakkan lewat upacara-upacara, seni pemujaan dan produksi
aneka simbol yang melegitimasikan raja dan istana sebagai pusat dari
tatanan/hirarki kosmos. Secara singkat Geertz mengambarkan sebagai
berikut :
Kehidupan ritual keraton – upacara-upacara massal,
kesenian yang sangat halus, tata krama yang sangat rumit – tidak selalu
merupakan hiasan kekuasaan melainkan merupakan substansinya. Ibu kota merupakan panggung sandiwara dimana para agama dan kaum
bangsawan dengan dipimpin oleh raja, tak henti-hentinya memamerkan
upacara yang megah dimana rakyat bertindak sebagai penonton, pembawa
tombak dan sekaligus melalui upeti dan kerja bakti yang wajib ia
berikan, sebagai sponsor.
Kembali ke Salasilah Kutai. Pada
jaman-jaman awal penduduk atau masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan
Kutai tidak dibeda-bedakan atau semua disebut sebagai orang Kutai. Atau
penyebutan lain yang mengacu pada nama tempat atau daerah aliran
sungai. Dalam persoalan adat, kerajaan waktu itu juga mengakui dan
menghormati adat dari kelompok masyarakat di sebuah tempat. Hal mana
tampak dalam pasal 7 kitab Panji Selaten yang disebut adat adalah
sesuatu yang berlaku di suatu kaum (masyarakat) dan daerah, seperti adat
daerah Modang, Bahau, Tunjung, Banua, Basap dan sebagainya. Pembedaan
penyebutan dan perlakuan baru muncul kemudian dalam Kitab/Undang-Undang
Baraja Niti. Perbedaan penyebutan dan perlakuan ini didasarkan oleh
sistem kepercayaan atau agama. Islam saat itu menjadi agama ’resmi’
kerajaan. Maka siapa yang tidak memeluk Islam akan mendapat perlakuan
diskriminatif sebagaimana terlihat dalam pasal 14 yang berbunyi : Jika
membunuh Islam, dibunuh pula kafir itu; kalau dibandingkan dengan pasal
16 yang berbunyi : Kalau Islam membunuh kafir, tiada harus dipulihkan
melainkan didenda atasnya. Pembedaan yang mulai muncul dari syiar agama
Islam kemudian semakin diperkuat oleh konstruksi yang dibangun oleh
bangsa Kolonial. Demi kepentingan menguasai sebagian wilayah Kutai maka
mereka menciptakan penyebutan istilah pedalaman dengan segala stereotype
dan stigmatisasinya. Tujuannya adalah agar Kerajaan melepas wilayah
’sulit’ itu untuk berada dalam pengaturan kolonial dengan sedikit
kompensasi untuk dibayarkan kepada kerajaan.
Pengaruh syiar agama
Islam, politik kolonial dan kemudian juga misi Kristen membuat
masyarakat Kutai kemudian terkotak-kotakkan baik dalam kategorisasi
berbau etnis, agama dan geografis dengan segenap variannya. Mulai muncul
istilah Kutai/Melayu/Halo’ vs Dayak, Islam vs Kafir, Islam vs Kristen ,
juga istilah pesisir vs pedalaman. Kategorisasi seperti ini kemudian
menjadi penanda dalam perihal kebudayaan dan kesenian. Di mana dalam
pentas perayaan Erau dan pentas-pentas lainnya muncul istilah :
- Seni Budaya Pesisir.
- Seni Budaya Pedalaman.
Selain
dua kategori diatas muncul pula kategori Seni Budaya Keraton. Dan tentu
saja dibanding dengan dua kategori diatas seni budaya keraton yang
dipandang sebagai seni kelas tinggi, halus dan tidak sembarang untuk
ditampilkan. Istilah seni keraton merujuk pada jenis kesenian (dan
kebudayaan) yang bertumbuh dalam lingkungan keraton atau kelompok
bangsawan. Sedangkan istilah pesisir dan pedalaman lebih merujuk pada
geografi dan sistem religius masyarakatnya. Kesenian pesisir adalah
jenis-jenis seni budaya yang tumbuh dalam kelompok yang mengidentifikasi
diri sebagai suku Kutai. Seni budaya mereka bercorak melayu atau
bernafaskan Islam. Sementara istilah kesenian pedalaman disematkan
kepada kelompok masyarakat yang disebut sebagai orang pedalaman atau
suku Dayak. Seni budaya mereka dianggap berbaur dengan kepercayaan
animisme dan dinamisme meski sebagian besar kemudian memeluk agama
Kristen.
Dalam perayaan Erau, ketiga kategori kesenian ini selalu
ditampilkan bersama meski dalam tempat yang berbeda. Akan tetapi adat,
tradisi dan kebudayaan keratonlah yang utama atau masuk sebagai acara
inti. Sementara kesenian kelompok pesisir dan pedalaman masuk dalam
kategori acara tambahan, yang sifatnya tidak mutlak artinya jika
ditiadakan tidak mempunyai konsekwensi apa-apa terhadap jalannya Erau.
Dalam
keterangan lebih lanjut, Aji Surya Dharma menuliskan sejak tahun 1971
Erau bukan lagi merupakan upacara adat kesultanan sebab pelaksanaan
telah diambil alih oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Erau mulai saat itu dirayakan sebagai bagian peringatan HUT berdirinya
Kota Tenggarong yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Kutai
Kartanegara. Erau sebagai adat keraton (jaman kerajaan/kesultanan) yang
telah mentradisi selama berabad-abad sebenarnya memang telah berakhir
dengan ditetapkannya Kutai Kartanegara sebagai daerah tingkat II
(Kabupaten). Dalam konteks pemerintah daerah Erau kemudian dipandang
sebagai alat atau sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya,
pembinaan dan pengembangan kesenian daerah sebagai bagian dari khasanah
budaya nasional. Masuknya Erau dalam ‘calendar event’ pemerintah daerah
secara otomatis akan merubah kepentingan, tekanan, nilai-nilai spiritual
dan ritualita perayaan Erau itu sendiri.
Peralihan Erau ke
tangan pemerintah daerah tentu saja bukan tanpa sebab. Pemerintah daerah
mempunyai kepentingan untuk mengenggam Erau dalam tangan ’kekuasaan’
nya. Sebab selama berabad-abad Erau identik dengan Kerajaan/Kesultanan
Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Erau merupakan tanda hubungan antara
wilayah kekuasaan dan rakyat dengan Raja/Sultan. Dengan dilaksanakannya
Erau oleh pemerintah daerah, maka bukan hanya riwayat
Kerajaan/Kesultanan yang tamat melainkan juga hubungannya dengan
rakyatpun habis sudah.
Kondisi seperti ini pernah dipertanyakan
oleh Bihaddy Arss (alm), seorang spiritualis yang bergelar Raden Setia
Sentana yang menilai perayaan Erau dalam rangka HUT Kota Tenggarong
kurang memberi perhatian pada acara adat. Akibatnya perhatian masyarakat
lebih kepada acara opening ceremony. Baginya perayaan Erau model
seperti ini merupakan kekeliruan yang harus diluruskan dengan
mengembalikan menjadi perayaan Erau adat yang sebenar-benarnya.
Penilaian
Bihaddy Arss ini menarik untuk ditelaah lebih jauh menyangkut apa yang
dimaksud dengan Erau Adat?. Jika dilihat perayaan Erau pada wilayah
publik bisa dikatakan sebagai acara kenegaraan dengan demikian
keterlibatan publik/masyarakat adalah keterlibatan pasif. Dengan
demikian Erau Adat sebenarnya merupakan milik dan kepentingan
Kerajaan/Kesultanan untuk menjadi penanda hubungan/komunikasi
politik-kultural dengan rakyat/masyarakatnya. Dengan demikian pada
mulanya Erau bukanlah murni sebagai sebuah acara kebudayaan (adat)
semata tanpa muatan politik dan kekuasaan. Peralihan sistem kekuasaan
dari bentuk kerajaan/kesultanan ke pemerintahan daerah tingkat II
sebenarnya diputuskan atas dasar keberatan aktivis nasionalis di
Kalimantan Timur saat itu yang tidak menghendaki penetapan Kutai sebagai
Daerah Istimewa dimana secara turun temurun kepemimpinannya akan ada di
tangan kesultanan. Para aktivis nasionalis tidak menghendaki
kepemimpinan feodal karena dipandang tidak sesuai dengan nilai
demokrasi. Kabupaten Kutai yang beribukota sama dengan Kesultanan Kutai
Kartanegara yaitu Tenggarong dengan sendirinya mewarisi tradisi
perayaan Erau. Namun tentu saja Erau dalam konteks yang berbeda. Erau
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai dirayakan sebagai bagian dari HUT
Kota Tenggarong sejatinya adalah Erau baru meski susunan atau model
acaranya sebagian besar mengacu pada perayaan Erau Kerajaan.
Perayaan
Erau dalam konteks seperti pada akhirnya memang menimbulkan
problematika tersendiri. Meski dari hari ke hari perayaan Erau makin
meriah dan meluas jangkauannya namun segenap polemik tetap senantiasa
menyertainya.Erau
sebagai salah satu puncak kebudayaan Kutai (Kalimantan Timur) memiliki
akar yang kuat dalam sejarah masyarakatnya. Meski senantiasa mengalami
pergeseran dari waktu ke waktu, namun dalam masa pemerintahan Bupati
Syaukani HR guncangan terhadap Erau terasa sangat deras. Erau
ditempatkan dalam bayang-bayang masa lalu, masa kejayaan Kerajaan Kutai
Mulawarman dan Kutai Kartanegara. Erau dengan segala pernak-perniknya
disimbolkan sebagai kebangkitan kebudayaan Kutai, symbol pemersatu antar
masyarakat yang plural dan tahap menuju percaturan wisata budaya
global. Dalam pandangan Anhar Gonggong, antropolog dan sejarawan yang
menyaksikan Erau/Festival Keraton Nusantara tahun 2002 menyatakan
perayaan ini tak lebih dari sebuah event budaya biasa.
Namun dalam
penuturan lebih lanjut kepada harian Republika dikatakan bila ditinjau
dari aspek antropologi, Festival Erau dan FKN punya makna mendalam.
''Keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kebermacaman sejarah
bangsa kita,'' katanya. Kebermacaman sejarah tersebut, lanjutnya,
kemudian berproses hingga menjadi Indonesia yang multietnis dan budaya.
Keterkaitan ini menumbuhkan kesadaran perlunya memelihara budaya untuk
mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi. Anhar mengakui
banyaknya kesultanan dan kerajaan di tanah air saat ini tidak lebih
dari sekadar simbol kekayaan dan kekuatan sejarah masa silam. Sebab
kini, kesultanan yang ada sudah tidak punya pengaruh lagi di Indonesia.
Kendati demikian, katanya, keberadaan mereka tidak lantas
dikesampingkan. Pengaruh para sultan dan raja diakui masih tetap ada di
lingkup masyarakat sekitar. Oleh karenanya, adat istiadat dan kebiasaan
masing-masing kesultanan harus dipelihara, terutama sebagai simbol
pemersatu.
Ungkapan Erau sebagai simbol pemersatu mungkin bisa
dicapai dalam bentuk fisik. Artinya sebagai sebuah ruang, Erau adalah
tempat bagi berbagai kesenian, adat budaya dan olahraga tradisi tampil
bersama berbaur, bersanding dengan aneka ritus modern kontemporer
lainnya. Erau tetap tampil sebagai pertautan erat antara penduduk asli
dan pendatang sebagaimana terenda berabad lamanya. Syaukani HR secara
tegas mengatakan ”Esensi Erau bukan semata-mata merupakan pesta yang
menampilkan seni dan budaya, tetapi mengandung makna persatuan, kesatuan
dan perdamaian”. Persoalannya apakah benar demikian?. Fakta menunjukkan
bahwa pelaksanaan Erau yang kemudian batal di tahun 2004 dan seterusnya
sampai sekarang justru karena Erau tak mampu mempersatukan kepentingan
para pihak (pemerintah/bupati dan kerabat keraton).
Cerita lain
misalnya soal pementasan Damarwulan yang sepi penonton dan kemungkinan
seni tradisional lainnya akibat kalah bersaing dengan penampilan
artis-artis ibukota serta pertujukan dari luar tentu membuat makna
persatuan, kesatuan dan perdamaian yang dibangun atas narasi sejarah
besar menjadi sulit untuk dirasakan. Budi Warga, pemerhati seni budaya
Kukar dikatakan Erau semakin jauh dari tradisi karena yang paling
menonjol justru sisi kontemporernya. Tarian massal kreasi baru hasil,
karnaval atau pawai, pertunjukkan musik pop, rock dan dangdut, pesta
lampion, pesta kembang api, bazar dan lain-lainnya kesemarakkannya mampu
menenggelamkan paduan oleh suara dan gerak upacara, seni tradisi yang
dalam persepsi kebanyakan orang dipandang monoton.
 |
| Mengulur naga ke Sungai |
Hanya ini
tidak berarti yang tradisional tidak menarik lagi. Masih ada bagian
utama dari upacara Erau yang masih menyedot perhatian yaitu pada bagian
penutup dimana disana akan dilaksanakan ritual mengulur naga yang
dilanjutkan dengan acara siram-siraman air atau balimbur. Dalam upacara
ini seekor naga berkerangka bambu sepanjang 13,5 meter berkepala dan
berekor kayu lempong akan dililit dengan kain kuning dan diberi sisik
warna-warni. Ada 5 – 7 lekukkan dan dibawahnya dipasang kaki sebagai
penyangga agar naga itu bisa berdiri.
Dewa Pangkon dan Dewa
Balian akan mengiringi turunnya naga itu dari Kedaton/Istana menuju
dermaga untuk kemudian dinaikkan diatas kapal yang akan membawanya ke
Kutai Lama dimana akan diadakan acara beluluh bagi para pejabat atau
sesepuh yang akan dieraukan. Mereka yang akan dieraukan duduk di balai
Tambak Karang. Setelah ditaburi tepung tawar oleh petugas adat, maka air
tuli yang dibawa oleh Pangkon akan diserahkan kepada sesepuh untuk
kemudian dipercikkan kepada para hadirin. Percikan air itu menandai
mulainya acara Balimbur.
Bunyi gamelan terus dibunyikan
mengiringi keberangkatan kapal untuk melakukan perjalanan bolak-balik
sebanyak 7 kali antara jembatan Tenggarong dan Kutai Lama sebagaimana
diriwayatkan dalam legenda Kutai. Setelah itu perlahan naga diturunkan
ke sungai. Pangkon akan memotong kepala naga untuk disimpan dan
digunakan pada tahun berikutnya. Masyarakat yang berada di sekitar
tempat menghanyutkan naga akan memperebutkan kain kuning pembungkus naga
yang dipercaya mendatangkan berkah.
 |
| Siram-Siraman Air |
Acara siram-siraman yang
dipercaya menjadi simbol membersihkan diri dari kotoran, kejahatan dan
niat-niat jahat yang sering menguasai seseorang serta memberi kekuatan
untuk menangkal marabahaya dan malapetaka yang datang sewaktu-waktu akan
berakhir pada pukul enam sore. Dengan selesainya balimbur maka usai
sudah, namun dalam keadaan yang basah kuyub dan tubuh mengigil karena
dingin mulai menyerang banyak muda-mudi tersenyum gembira dalam hati
sebab balimbur telah memberi kesempatan untuk berkenalan dengan pujaan
hati yang moga saja esok bisa berjodoh dengannya.
Upacara
mengulur naga dan balimbur (saling siram) mungkin merupakan bagian kecil
dari ritualita Erau yang mengisi ruang batin masyarakat Kutai. Meski
aksentuasinya tak begitu keras, suara-suara seputar dampak kosmologis
akibat tidak dilakukannya Erau tertangkap juga. Nila seorang aktivis
mahasiswa yang tengah studi di Unikarta mengatakan kemungkinan dampak
akibat tidak ada Erau memang ada. Dia menyebutkan kejadian (kesialan dan
bencana) yang beruntun, seperti kebakaran, orang tengelam di sungai
Mahakam.
Kalimantan Selatan
Dengan Wisata Budaya
Tradisi Baayun Maulid