Kesenian dan tradisi yang harus terus di jaga beberapa tradisi yang paling indonesia khususnya di Borneo yang coba kita lihat dan amati. Acara yang luar biasa yang menjadi kultur yang menarik untuk di ikuti acaranya dan diabadikan. beberapa diantranya :
Kalimantan Barat
Dengan Wisata Budaya Tradisi Mempawah
Kalimantan Barat
Dengan Wisata Budaya Tradisi Mempawah
![]() |
Robok-Robok |
Sejumlah pasangan muda-mudi datang menggunakan
sepeda motor. Beberapa keluarga menggunakan mobil pribadi. Ada juga
beberapa rombongan yang datang menggunakan mobil bak terbuka da
n truk.
Alhasil, sekitar 200 meter dari mulut jalan menuju lokasi terjadi
kemacetan. Terlebih di sepanjang jalan menuju lapangan terdapat
kios-kios para pedagang yang menjajakan berbagai produk, seperti
pakaian, makanan, minuman, aksesoris, vcd, dan sebagainya.
Kendati hari itu cuaca begitu panas, matahari
bersinar terik, namun tak mengendurkan niat orang untuk datang. Tujuan
mereka satu, ingin menyaksikan robok-robok sekaligus berbelanja dan
menikmati hiburan gratis. Beberapa turis asing pun nampak di antara
ratusan pengunjung lokal.
Di lapangan, sejumlah tamu sudah menempati
kursi-kursi beratap tenda besar yang menghadap sungai. Pengunjung yang
tidak kedapatan kursi berdiri di bibir sungai. Tak lama kemudian perahu
kuning yang membawa rombongan Pangeran Ratu dari Istana Amantubillah, DR
Ir. Martian Adijaya Kesuma Ibrahim, MSc melaju di atas permukaan air
Sungai Mempawah, sekitar 20 meter dari tempat para tamu duduk. Ketika
memasuki Muara Mempawah, Pangeran Ratu dijemput oleh putra mahkota dan
sejumlah punggawa keraton dengan menaiki perahu lancang kuning.
Di Muara Mempawah, seorang punggawa keraton
mengumandangkan azan dari atas perahu. Selepas itu, putra mahkota
melakukan ritual buang-buang sesaji ke laut sebagai talak bala.
Selanjutnya, Pangeran Ratu dan permaisuri mendatangi para undangan,
sedangkan putra mahkota kembali ke keraton.
Robok-Robok |
Selepas acara seremonial pembukaan Pagelaran Seni
Budaya Keraton Nusantara II dan Festival Seni Budaya Melayu IV
se-Kalbar, para undangan dihibur dengan persembahan tari-tarian khas
Kal-Bar. Ada tarian anging mamiri, khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan.
Kemudian tarian selamat datang khas Melayu yang dibawakan beberapa
penari perempuan dengan mengenakan pakaian berwarna kuning. Dan
dilanjutkan dengan tarian 6 gadis cilik yang sempat mencuri perhatian
undangan.
Usai pembacaan doa penutup, para raja, ratu dan
undangan dijamu oleh Pangeran Ratu makan siang di Istana Amantubillah.
Prosesi makan siang ini menggunakan tradisi saprahan atau makan bersama
khas masyarakat yang tinggal di pesisir. "Dahulu ketika Opu datang di
Memawah belum ada rumah. Mereka kemudian duduk dan makan bersama di tepi
sungai beratap langit. Tradisi ini kemudian dilakukan masyarakat
Mempawah secara turun temurun," tandas Pangeran Ratu Mardan. Usai
bersantap, beberapa undangan melakukan ziarah ke makam Ompu Daeng
Manambon.
Makna perayaan tradisi robok-robok menurut Pangeran
Ratu Mardan sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. "Ketika
itu para pengikut Opu Daeng Manambon, terdiri atas berbagai etnis dan
agama," katanya. Dengan begitu robok-robok diyakini sarat dengan pesan
persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu
merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan
Kota Mempawah.
"Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar.
Bersama-sama mereka membangun Mempawah. Tadi ada makna harmonis antar
etnis dan agama dibalik perayaan robok-robok ini," jelas Pangeran Ratu
Mardan.
Bukti lain dari adanya keharmonisan itu, lanjut
Mardan, bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon. Di makam
tersebut juga terdapt makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir
dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam
etnis lainnya.
Sedangkan Gubernur Kalbar H. Usman Jafar mengatakan
robok-robok merupakan aset pariwisata Kalbar. "Peringatan robok-robok
tahun ini yang disatukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton
Nusantara memberi warna baru untuk meningkatkan seni budaya," kata
Jafar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan
robok-robok yang sudah menjadi salah satu kalender wisata nasional ini
menjadi hihuran gratis masyarakat. Sejumlah hiburan ditampilkan seperti
kontes motor air, busana adat, qasidah, karaoke lagu daerah, hadrah,
albarzanji, panjat pinang, tepuk bantal, tarik tambang, tenis meja, bola
voli, sepakbola anak gawang, lomba sampan, tarian daerah, dan atraksi
kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Pontianak. Kegiatan ini
berlangsung di tepi Sungai Mempawah sejak pagi hingga malam hari.
Robok-robok bagi sebagian masyarakat lokal menjadi
berkah tersendiri. Mereka mendulang rupiah dengan berjualan berbagai
produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar
kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah
pelaksanaan robok-robok.
Perayaan tradisi robok-robok berlangsung setiap
tahun di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Mudah
mencapai lokasi Mempawah. Dari Bandana Supandio, Pontianak tinggal
mencarter taksi atau bus travel. Waktu tempuh sekitar 2 jam.Atau bisa dengan bus umum dari terminal Kota
Pontianak menuju Kuala Mempawah. Jalan yang dilalui beraspal mulus
dengan lalu lintas yang lengang. Kalau letih dan lapar, sepulang dari
menyaksikan robok-robok, bisa mampir di Pondok Pengkang yang menyajikan
makanan khas Melayu dan penganan pengkang atau sejenis lempar
ketan.Suhardi Budpar prov kalbar.
Kalimantan Timur
Dengan Wisata Budaya Tradisi EARU
![]() |
| Tarian Khas Dayak |
Erau dan Kerajaan Kutai Kartanegara bagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Erau untuk pertama kali dilaksanakan dalam bentuk upacara tijak tanah dan mandi ke tepian untuk Aji Batara Agung Dewa Sakti pada usianya yang ke 5. Dia inilah yang kemudian menjadi menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325). Penobatan Aji Batara Agung Dewa Sakti menjadi Raja juga diadakan lewat upacara Erau. Sejak saat itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Dalam perkembangannya upacara Erau juga diadakan untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.
Selain sebagai upacara kerajaan, istilah Erau sebenarnya juga dipakai atau dikenal sebagai sebutan acara atau ritual dalam kehidupan berbagai suku ’asli’ di pulau Kalimantan. Di Kota Bontang, warga Guntung secara rutin mengelar Erau Pelas Banua. Menurut sejarahnya Erau Pelas Banua ini telah dilaksanakan sejak jaman pemerintahan Sultan Sulaiman XVII. Dalam tradisi masyarakat Dayak juga dikenal perayaan Erau atau Pelas Tahun. Masyarakat Tunjung Benuaq menyebutnya sebagai Nggugu Tahun. Dan kini perayaan semacam ini dilaksanakan setiap tahun di Kabupaten Kutai Barat yang ditandai dengan upacara penombakan kerbau. Masyarakat Kabupaten Berau juga mengenal perayaan semacam Erau yang disebut dengan Birau.
Kembali kepada Erau dan keterkaitannya dengan Kutai Kartanegara, Halimi Hadibrata, dalam studinya atas naskah Salasilah Kutai menemukan dan menyimpulkan bahwa tradisi Erau dalam Kerajaan Kutai Kartanegara menunjukkan jenis-jenis upacara adat yang terdiri atas :
- Upacara sepanjang hayat yang berkaitan dengan fase peralihan dan penyatuan hidup individu sejak kelahiran sampai dengan kematian.
- Upacara adat kerajaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kemakmuran
Erau versi kerajaan inilah yang amat populer atau dikenal luas oleh masyarakat baik di dalam maupun diluar Kalimantan Timur. Sehingga seolah-olah Erau identik dengan perayaan adat di Kabupaten Kutai Kartanegara semata. Hal mana bisa dimaklumi karena Erau Kerajaanlah yang menyertai Kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari tumbuh kembangnya sampai pada peralihan kekuasaan dan bahkan sampai saat ini.
Sejarah Erau dan Kutai Kartanegara yang tak terpisahkan itu, sama-sama membawa jejak-jekak percampuran budaya (Multikultural Purba). Dlam paparan lebih lanjut, Halimi mengungkapkan, baik dalam Erau maupun kerajaan sekurang-kurangnya bisa ditemukan 3 pengaruh kebudayaan yaitu :
- Kebudayaan Hindu India termasuk kepercayaan lokal (animisme dan dinamisme).
- Kebudayaan Hindu Jawa (Majapahit).
- Kebudayaan Islam (Melayu, Bugis, Banjar).
Keragaman atau percampuran memang melekat dalam cerita sejarah atas asal-usul berdirinya kerajaan Kutai Kartanegara. Baik dalam dokumen lama (purba) maupun telaah para ahli sejarah. Memang tidak ada cerita tunggal tentang kemunculan kerajaan Kutai. Ada catatan yang mengkaitkan kemunculan Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pelarian dari Kerajaan Singosari, namun ada juga yang menghubungkan dengan Kerajaan Majapahit yang menempatkan otoritas kekuasaan di daerah taklukan. Dalam catatan berikutnya Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menahklukan dan mengambil alih simbol-simbol serta kekayaan Kerajaan Kutai Mulawarman. Kerajaan Kutai Mulawarman adalah kerajaan Hindu tertua yang jauh lebih dahulu ada di wilayah Kalimantan. Pada masa-masa akhir, kerajaan ini sempat hidup berdampingan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang baru berkembang.
Fenomena percampuran dalam Kerajaan Kutai Kartanegara terus berlanjut dalam bentuk ’perkawinan politik’. Hal ini dilakukan oleh calon raja atau raja itu sendiri dengan puteri dari Kutai Mulawarman, Kerajaan di Sulawesi Selatan, Pasir dan lain sebagainya. Tentu ini semua membawa pengaruh dalam dinamika kehidupan maupun kebudayaan keraton. Dengan demikian jika Erau dikaitkan dengan Kutai maka akan berdimensi banyak. Kutai bisa dalam arti wilayah kekuasaan, wilayah kebudayaan dan Kutai sebagai wilayah etnisitas. Maka Erau sebenarnya sebuah realitas kompleks baik dari sisi kontinuitas maupun diskontinuitas dalam perjalanan sejarahnya.
Ada banyak versi tentang Erau. Namun sebagai sebuah perayaan publik, Erau sebagai mana dituliskan oleh Drs. Aji Surya Dharma berasal dari bahasa Kutai ’eroh’ berarti ramai, riuh atau suasana yang penuh sukacita. Secara singkat upacara Erau yang pelaksanaannya dilakukan oleh kerabat Keraton dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat (petinggi) yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya. Dalam entri kamus Bahasa Indonesia, Erau diartikan sebagai acara adat di Kutai Kartanegara. Sementara itu Johansyah Balham dalam cerita roman sejarah ”Runtuhnya Martadipura” (tahun 2003) menyebutkan Erau sebagai sebuah pesta yang ditunggu-tunggu. Hari-hari itu segala bentuk ketangkasan (judi) dan minuman keras seperti dibebaskan. Pemuda-pemudi banyak memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari dan memadu cinta.
Erau memang tidak berdimensi tunggal. Masing-masing kelompok masyarakat mengartikan berdasarkan perspektif dan kepentingan mereka. Namun Erau pada wilayah public sebenarnya lebih mengacu pada rangkaian upacara untuk penobatan raja. Dalam Salasilah Kutai susunan atau rangkaian acara Erau untuk penobatan raja digambarkan sebagai berikut :
- Hari pertama : Upacara menjamu Benua (kota). Maksud dari upacara ini adalah untuk memanggil Sang Hiyang-Hiyang (yang berada di kayangan dan berjumlah 37) untuk diminta doa restunya agar acara berjalan lancar tanpa halangan.
- Hari kedua : Acara beredar. Para belian dan pangkoan diikuti oleh seorang kepala adat akan berjalan keliling ruangan dalam kenatan sebanyak tujuh putaran.
- Hari ketiga : Upacara mendirikan ayu. Perlengkapan ayu diletakkan diatas butiran beras (beras tambak karang) warna-warni dan dihias dengan daun enau, daun kelapa dan lain-lain. Malamnya diadakan acara menjoget dan tari ganjur yang diikuti tamu serta raja. Setelah itu ada upacara naik ayu dan kemudian upacara gajah rendu. Terakhir para petinggi akan ke pinggiran sungai Mahakam untuk mengambil air tuli. Air yang ditaruh dalam guci ini akan disimpan dalam ruangan upacara. Raja berada paling depan dalam iringan untuk membawa air dari sungai ke ruang upacara.
- Hari keempat, kelima dan keenam : Mengulang upacara hari ketiga.
- Hari ketujuh : Upacara pengambilan air di Tanjung Riwana dipimpin seorang belian. Air ini kemudian disatukan dengan air tuli. Setelah itu ada pesta semalam suntuk diikuti seluruh hadirin (pria dan wanita). Sambil menari-nari mereka saling melempar beras. Acara meriah ini dihentikan saat fajar menjelang dengan upacara menjala hingga fajar menyingsing.
- Hari kedelapan : Upacara berjerak. Seekor ayam dipotong diatas kepala raja, darah ayam kemudian disebar diatas tanah. Ini yang disebut dengan memelas bumi tujuannya agar negeri makmur, tanaman subur, rakyat sejahtera. Lalu dilanjutkan dengan upacara Berumban. Raja dengan badan diselubungi kain kuning dikurung dalam gulungan tilam. Raja akan bergerak dalam beberapa posisi yaitu hadap kiri, kanan dan terlentang. Pada setiap posisi tubuh Raja akan dielus-elus dengan mayang tertundun sebanyak tujuh kali dari kepala ke kaki dan sebaliknya. Setelah itu Raja akan dimandikan pada balai di pinggir sungai. Malam harinya Raja akan dipelas dengan tepung tawar dengan disaksikan para undangan, petinggi dan rakyat seluruh negeri Kutai Kartanegara. Saat itu Raja akan menegaskan kepemimpinannya dengan mengatakan ”Hai, orang Kutai akulah Rajamu”. Ucapan ini disambut oleh semua yang menyaksikan dengan mengatakan ”Pakulun patik Aji”. Dan dengan demikian selesailah rangkaian upacara Erau selama delapan hari.
Esok harinya Raja akan bertahta dan kemudian menerima sembah setia dan ucapan pamit dari seluruh petinggi dari daerah kekuasaannya. Dalam kesempatan ini Raja kembali meminta kesetiaan tanpa syarat kepada para petinggi dengan mengatakan ”Hai para orang tua-tua dari sepuluh negeri, meskipun binimu sendiri, kalau aku benci kepadanya, maka awakpun harus benci kepadanya”. Ucapan ini dijawab oleh para petinggi dengan kalimat ”Kaula nuwun patik Aji, pakulun patik aji”.
Setelah itu Raja akan dipelas oleh saudara putrinya. Raja kemudian turun dari tahtanya menuju guci yang berisi campuran air tuli dan air tanjung riwana. Raja kemudian membasuh muka, meminum dan berkumur-kumur lalu disemburkan kepada saudara putrinya. Selanjutnya saudara putrid akan berjoget diiringi dengan sorak sorai hadirin. Raja kemudian akan ditandu dan dibawa keluar keliling lapangan sebanyak tujuh kali untuk ditunjukkan pada rakyatnya. Setelah itu para hadirin dan petinggi akan meninggalkan paseban dan pulang ke daerah masing-masing.
Rangkaian upacara dan kegiatan selingan dalam acara penobatan raja ini menimbulkan keramaian dan keriuhan. Keramaian karena ada banyak orang berkumpul di pusat kerajaan. Keramaian itu semakin meriah dengan aneka pentas kesenian, adat dan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada di wilayah kekuasaan kerajaan. Suasana keramaian dan pesta inilah yang kemudian tertanam dalam benak dan ingatan masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli dengan Erau sebagai sebuah perisitiwa sosiopolitik sebagai mana diungkapkan oleh Roedy Haryo AMZ, organik dan pemerhati kebudayaan Kalimantan Timur. Dalam keterangannya dijelaskan bahwa konteks perayaan Erau adalah kepentingan politik rezim penguasa. Erau dimaksudkan untuk menjadi penanda legitimasi penguasa, dimana dari sana bisa diukur sejauh mana seorang penguasa (Raja/Sultan) diterima oleh rakyatnya. Partisipasi masyarakat, kedatangan para petinggi dari berbagai kelompok masyarakat (puak) menjadi perlambang diterimanya kepemimpinan penguasa saat itu oleh mereka. Dalam Salasilah Kutai diceritakan bahwa Erau merupakan kesempatan pertemuan antara Raja/Sultan dengan para petinggi dari wilayah-wilayah yang termasuk dalam kekuasaannya. Pada kesempatan itu akan disampaikan permintaan, petunjuk dan arahan dari sang raja. Apapun titah dan keinginan sang raja harus dituruti.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Roedy Haryo AMZ, Halimi Hadibrata menambahkan bahwa petinggi-petinggi daerah datang bersama rombongan seraya membawa bekal dan sesembahan untuk Raja (upeti). Dengan demikian keramaian sendiri bukan diciptakan oleh Raja dan Kerabatnya. Suasana ramai karena para petinggi datang dengan rombongan besar dimana didalamnya termasuk para pemasak dan kelompok seniman. Raja menyediakan tempat dan kesempatan di sekitar istana agar rakyat bisa berkumpul dan bergembira bersama. Pemberian dan ijin menyangkut tempat dan kesempatan dari Raja inilah yang kemudian dianggap oleh rakyat sebagai tanda kebaikan, keramahan dan keterbukaan Raja beserta kerabatnya terhadap masyarakat umum (biasa). Citra pembauran Raja dan kerabat dengan rakyat pada perayaan Erau terus direproduksi sampai saat ini.
Padahal jika kembali pada penjelasan Roedy maupun Halimi, jika Erau diibaratkan sebagai sebuah dialog kekuasaan, maka Erau merupakan bentuk dialog yang searah. Keterlibatan masyarakat atau rakyat dalam perayaan itu adalah keterlibatan pasif, mereka datang sebagai penonton, pengembira atau pengisi acara. Kembali pada asalnya Erau pada dasarnya adalah perayaan keraton atau adat istiadat/tradisi Kutai dari golongan bangsawan (dalam keraton) yang dirayakan secara publik. Kenyataan seperti ini oleh Cliffords Geertz disebut dengan istilah ’negara teater’, dimana kekuasaan ditegakkan lewat upacara-upacara, seni pemujaan dan produksi aneka simbol yang melegitimasikan raja dan istana sebagai pusat dari tatanan/hirarki kosmos. Secara singkat Geertz mengambarkan sebagai berikut :
Kehidupan ritual keraton – upacara-upacara massal, kesenian yang sangat halus, tata krama yang sangat rumit – tidak selalu merupakan hiasan kekuasaan melainkan merupakan substansinya. Ibu kota merupakan panggung sandiwara dimana para agama dan kaum bangsawan dengan dipimpin oleh raja, tak henti-hentinya memamerkan upacara yang megah dimana rakyat bertindak sebagai penonton, pembawa tombak dan sekaligus melalui upeti dan kerja bakti yang wajib ia berikan, sebagai sponsor.
Kembali ke Salasilah Kutai. Pada jaman-jaman awal penduduk atau masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Kutai tidak dibeda-bedakan atau semua disebut sebagai orang Kutai. Atau penyebutan lain yang mengacu pada nama tempat atau daerah aliran sungai. Dalam persoalan adat, kerajaan waktu itu juga mengakui dan menghormati adat dari kelompok masyarakat di sebuah tempat. Hal mana tampak dalam pasal 7 kitab Panji Selaten yang disebut adat adalah sesuatu yang berlaku di suatu kaum (masyarakat) dan daerah, seperti adat daerah Modang, Bahau, Tunjung, Banua, Basap dan sebagainya. Pembedaan penyebutan dan perlakuan baru muncul kemudian dalam Kitab/Undang-Undang Baraja Niti. Perbedaan penyebutan dan perlakuan ini didasarkan oleh sistem kepercayaan atau agama. Islam saat itu menjadi agama ’resmi’ kerajaan. Maka siapa yang tidak memeluk Islam akan mendapat perlakuan diskriminatif sebagaimana terlihat dalam pasal 14 yang berbunyi : Jika membunuh Islam, dibunuh pula kafir itu; kalau dibandingkan dengan pasal 16 yang berbunyi : Kalau Islam membunuh kafir, tiada harus dipulihkan melainkan didenda atasnya. Pembedaan yang mulai muncul dari syiar agama Islam kemudian semakin diperkuat oleh konstruksi yang dibangun oleh bangsa Kolonial. Demi kepentingan menguasai sebagian wilayah Kutai maka mereka menciptakan penyebutan istilah pedalaman dengan segala stereotype dan stigmatisasinya. Tujuannya adalah agar Kerajaan melepas wilayah ’sulit’ itu untuk berada dalam pengaturan kolonial dengan sedikit kompensasi untuk dibayarkan kepada kerajaan.
Pengaruh syiar agama Islam, politik kolonial dan kemudian juga misi Kristen membuat masyarakat Kutai kemudian terkotak-kotakkan baik dalam kategorisasi berbau etnis, agama dan geografis dengan segenap variannya. Mulai muncul istilah Kutai/Melayu/Halo’ vs Dayak, Islam vs Kafir, Islam vs Kristen , juga istilah pesisir vs pedalaman. Kategorisasi seperti ini kemudian menjadi penanda dalam perihal kebudayaan dan kesenian. Di mana dalam pentas perayaan Erau dan pentas-pentas lainnya muncul istilah :
- Seni Budaya Pesisir.
- Seni Budaya Pedalaman.
Dalam perayaan Erau, ketiga kategori kesenian ini selalu ditampilkan bersama meski dalam tempat yang berbeda. Akan tetapi adat, tradisi dan kebudayaan keratonlah yang utama atau masuk sebagai acara inti. Sementara kesenian kelompok pesisir dan pedalaman masuk dalam kategori acara tambahan, yang sifatnya tidak mutlak artinya jika ditiadakan tidak mempunyai konsekwensi apa-apa terhadap jalannya Erau.
Dalam keterangan lebih lanjut, Aji Surya Dharma menuliskan sejak tahun 1971 Erau bukan lagi merupakan upacara adat kesultanan sebab pelaksanaan telah diambil alih oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Erau mulai saat itu dirayakan sebagai bagian peringatan HUT berdirinya Kota Tenggarong yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara. Erau sebagai adat keraton (jaman kerajaan/kesultanan) yang telah mentradisi selama berabad-abad sebenarnya memang telah berakhir dengan ditetapkannya Kutai Kartanegara sebagai daerah tingkat II (Kabupaten). Dalam konteks pemerintah daerah Erau kemudian dipandang sebagai alat atau sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya, pembinaan dan pengembangan kesenian daerah sebagai bagian dari khasanah budaya nasional. Masuknya Erau dalam ‘calendar event’ pemerintah daerah secara otomatis akan merubah kepentingan, tekanan, nilai-nilai spiritual dan ritualita perayaan Erau itu sendiri.
Peralihan Erau ke tangan pemerintah daerah tentu saja bukan tanpa sebab. Pemerintah daerah mempunyai kepentingan untuk mengenggam Erau dalam tangan ’kekuasaan’ nya. Sebab selama berabad-abad Erau identik dengan Kerajaan/Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Erau merupakan tanda hubungan antara wilayah kekuasaan dan rakyat dengan Raja/Sultan. Dengan dilaksanakannya Erau oleh pemerintah daerah, maka bukan hanya riwayat Kerajaan/Kesultanan yang tamat melainkan juga hubungannya dengan rakyatpun habis sudah.
Kondisi seperti ini pernah dipertanyakan oleh Bihaddy Arss (alm), seorang spiritualis yang bergelar Raden Setia Sentana yang menilai perayaan Erau dalam rangka HUT Kota Tenggarong kurang memberi perhatian pada acara adat. Akibatnya perhatian masyarakat lebih kepada acara opening ceremony. Baginya perayaan Erau model seperti ini merupakan kekeliruan yang harus diluruskan dengan mengembalikan menjadi perayaan Erau adat yang sebenar-benarnya.
Penilaian Bihaddy Arss ini menarik untuk ditelaah lebih jauh menyangkut apa yang dimaksud dengan Erau Adat?. Jika dilihat perayaan Erau pada wilayah publik bisa dikatakan sebagai acara kenegaraan dengan demikian keterlibatan publik/masyarakat adalah keterlibatan pasif. Dengan demikian Erau Adat sebenarnya merupakan milik dan kepentingan Kerajaan/Kesultanan untuk menjadi penanda hubungan/komunikasi politik-kultural dengan rakyat/masyarakatnya. Dengan demikian pada mulanya Erau bukanlah murni sebagai sebuah acara kebudayaan (adat) semata tanpa muatan politik dan kekuasaan. Peralihan sistem kekuasaan dari bentuk kerajaan/kesultanan ke pemerintahan daerah tingkat II sebenarnya diputuskan atas dasar keberatan aktivis nasionalis di Kalimantan Timur saat itu yang tidak menghendaki penetapan Kutai sebagai Daerah Istimewa dimana secara turun temurun kepemimpinannya akan ada di tangan kesultanan. Para aktivis nasionalis tidak menghendaki kepemimpinan feodal karena dipandang tidak sesuai dengan nilai demokrasi. Kabupaten Kutai yang beribukota sama dengan Kesultanan Kutai Kartanegara yaitu Tenggarong dengan sendirinya mewarisi tradisi perayaan Erau. Namun tentu saja Erau dalam konteks yang berbeda. Erau oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai dirayakan sebagai bagian dari HUT Kota Tenggarong sejatinya adalah Erau baru meski susunan atau model acaranya sebagian besar mengacu pada perayaan Erau Kerajaan.
Perayaan Erau dalam konteks seperti pada akhirnya memang menimbulkan problematika tersendiri. Meski dari hari ke hari perayaan Erau makin meriah dan meluas jangkauannya namun segenap polemik tetap senantiasa menyertainya.Erau sebagai salah satu puncak kebudayaan Kutai (Kalimantan Timur) memiliki akar yang kuat dalam sejarah masyarakatnya. Meski senantiasa mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, namun dalam masa pemerintahan Bupati Syaukani HR guncangan terhadap Erau terasa sangat deras. Erau ditempatkan dalam bayang-bayang masa lalu, masa kejayaan Kerajaan Kutai Mulawarman dan Kutai Kartanegara. Erau dengan segala pernak-perniknya disimbolkan sebagai kebangkitan kebudayaan Kutai, symbol pemersatu antar masyarakat yang plural dan tahap menuju percaturan wisata budaya global. Dalam pandangan Anhar Gonggong, antropolog dan sejarawan yang menyaksikan Erau/Festival Keraton Nusantara tahun 2002 menyatakan perayaan ini tak lebih dari sebuah event budaya biasa.
Namun dalam penuturan lebih lanjut kepada harian Republika dikatakan bila ditinjau dari aspek antropologi, Festival Erau dan FKN punya makna mendalam. ''Keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kebermacaman sejarah bangsa kita,'' katanya. Kebermacaman sejarah tersebut, lanjutnya, kemudian berproses hingga menjadi Indonesia yang multietnis dan budaya. Keterkaitan ini menumbuhkan kesadaran perlunya memelihara budaya untuk mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi. Anhar mengakui banyaknya kesultanan dan kerajaan di tanah air saat ini tidak lebih dari sekadar simbol kekayaan dan kekuatan sejarah masa silam. Sebab kini, kesultanan yang ada sudah tidak punya pengaruh lagi di Indonesia. Kendati demikian, katanya, keberadaan mereka tidak lantas dikesampingkan. Pengaruh para sultan dan raja diakui masih tetap ada di lingkup masyarakat sekitar. Oleh karenanya, adat istiadat dan kebiasaan masing-masing kesultanan harus dipelihara, terutama sebagai simbol pemersatu.
Ungkapan Erau sebagai simbol pemersatu mungkin bisa dicapai dalam bentuk fisik. Artinya sebagai sebuah ruang, Erau adalah tempat bagi berbagai kesenian, adat budaya dan olahraga tradisi tampil bersama berbaur, bersanding dengan aneka ritus modern kontemporer lainnya. Erau tetap tampil sebagai pertautan erat antara penduduk asli dan pendatang sebagaimana terenda berabad lamanya. Syaukani HR secara tegas mengatakan ”Esensi Erau bukan semata-mata merupakan pesta yang menampilkan seni dan budaya, tetapi mengandung makna persatuan, kesatuan dan perdamaian”. Persoalannya apakah benar demikian?. Fakta menunjukkan bahwa pelaksanaan Erau yang kemudian batal di tahun 2004 dan seterusnya sampai sekarang justru karena Erau tak mampu mempersatukan kepentingan para pihak (pemerintah/bupati dan kerabat keraton).
Cerita lain misalnya soal pementasan Damarwulan yang sepi penonton dan kemungkinan seni tradisional lainnya akibat kalah bersaing dengan penampilan artis-artis ibukota serta pertujukan dari luar tentu membuat makna persatuan, kesatuan dan perdamaian yang dibangun atas narasi sejarah besar menjadi sulit untuk dirasakan. Budi Warga, pemerhati seni budaya Kukar dikatakan Erau semakin jauh dari tradisi karena yang paling menonjol justru sisi kontemporernya. Tarian massal kreasi baru hasil, karnaval atau pawai, pertunjukkan musik pop, rock dan dangdut, pesta lampion, pesta kembang api, bazar dan lain-lainnya kesemarakkannya mampu menenggelamkan paduan oleh suara dan gerak upacara, seni tradisi yang dalam persepsi kebanyakan orang dipandang monoton.
![]() |
| Mengulur naga ke Sungai |
Dewa Pangkon dan Dewa Balian akan mengiringi turunnya naga itu dari Kedaton/Istana menuju dermaga untuk kemudian dinaikkan diatas kapal yang akan membawanya ke Kutai Lama dimana akan diadakan acara beluluh bagi para pejabat atau sesepuh yang akan dieraukan. Mereka yang akan dieraukan duduk di balai Tambak Karang. Setelah ditaburi tepung tawar oleh petugas adat, maka air tuli yang dibawa oleh Pangkon akan diserahkan kepada sesepuh untuk kemudian dipercikkan kepada para hadirin. Percikan air itu menandai mulainya acara Balimbur.
Bunyi gamelan terus dibunyikan mengiringi keberangkatan kapal untuk melakukan perjalanan bolak-balik sebanyak 7 kali antara jembatan Tenggarong dan Kutai Lama sebagaimana diriwayatkan dalam legenda Kutai. Setelah itu perlahan naga diturunkan ke sungai. Pangkon akan memotong kepala naga untuk disimpan dan digunakan pada tahun berikutnya. Masyarakat yang berada di sekitar tempat menghanyutkan naga akan memperebutkan kain kuning pembungkus naga yang dipercaya mendatangkan berkah.
Acara siram-siraman yang dipercaya menjadi simbol membersihkan diri dari kotoran, kejahatan dan niat-niat jahat yang sering menguasai seseorang serta memberi kekuatan untuk menangkal marabahaya dan malapetaka yang datang sewaktu-waktu akan berakhir pada pukul enam sore. Dengan selesainya balimbur maka usai sudah, namun dalam keadaan yang basah kuyub dan tubuh mengigil karena dingin mulai menyerang banyak muda-mudi tersenyum gembira dalam hati sebab balimbur telah memberi kesempatan untuk berkenalan dengan pujaan hati yang moga saja esok bisa berjodoh dengannya.
Upacara mengulur naga dan balimbur (saling siram) mungkin merupakan bagian kecil dari ritualita Erau yang mengisi ruang batin masyarakat Kutai. Meski aksentuasinya tak begitu keras, suara-suara seputar dampak kosmologis akibat tidak dilakukannya Erau tertangkap juga. Nila seorang aktivis mahasiswa yang tengah studi di Unikarta mengatakan kemungkinan dampak akibat tidak ada Erau memang ada. Dia menyebutkan kejadian (kesialan dan bencana) yang beruntun, seperti kebakaran, orang tengelam di sungai Mahakam.
Kalimantan Selatan
Dengan Wisata Budaya Tradisi Baayun Maulid
![]() |
| Baayun |
Hal menarik yang perlu kita angkat dalam kegiatan ini adalah apakah Baayun Maulid sebagai kegiatan ritual ataukah prosesi budaya? Jika kita menyebutnya ritual Baayun Maulid, berarti ia terkait dengan paham, ajaran, keyakinan suatu agama, yang memiliki konsekuensi tertentu bagi mereka yang melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tetapi jika kita menyebutnya prosesi budaya, maka ia hanyalah sebuah kegiatan budaya yang sudah mentradisi, membumi dan biasa dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat. Selama ini kita merayakan Maulid Nabi Muhammad hanya sebatas shalawatan, rebutan buah-buahan seperti yang terjadi di Sumenep, Madura, jadi anak-anak atau bayi tidak bisa memperingati hari Maulid. Tapi lain halnya di Banjarmasin yang sejak dulu menjadi tradisi turun temurun, sampai memiliki nama tradisi yang khas yaitu Baayun Maulid. Proses tradisi tersebut diayun langsung oleh masing-masing ibunya dengan tujuan untuk mendapatkan keberkahan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang lahir pada bulan Maulud. Bayi dimasukkan dalam ayunan dari tapih bahalai (kain batik panjang) sebanyak tiga lapis. Di atas ayunan, diberi hiasan selendang warna warni dan janur. Bayi-bayi itu kemudian diayun sambil dialunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dulu tradisi ini hanya diselenggarakan di kampung-kampung. Namun dengan perkembangan budaya dan keilmuan, kini sebagian masyarakat Kalsel melaksanakannya dalam skala yang cukup besar pada beberapa tempat. Jadi tidak heran kalau tradisi tersebut berhasil tercatat masuk dalam rekor Museum Dunia Indonesia (MURI) karena diikuti 1.544 peserta, mulai bari dari umur empat hari hingga orang tua berumur 75 tahun. Inilah tradisi unik yang lestari hingga sekarang. Tradisi Baayun Maulid ini bisa bertahan dengan baik karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar. Jadi tidak heran kalau sampai sekarang tradisi budaya yang hidup seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya Kalsel, dan sejumlah obyek wisata alam.
Tradisi sebenarnya berasal dari masyarakat Dayak pada waktu itu, setelah masuk kewilayah Kalimantan Selatan pada waktu itu Islam baru masuk di Kerajaan Banjar yang dipimpin oleh Sultan Suriansyah, kegiatan itu kemudian dilangsung dengan membacakan syair-syair Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sebagai sebuah tradisi yang setiap tahun digelar, Baayun Maulid ini sarat dengan makna sejarah, nilai filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang unik untuk dikaji secara komprehensif. Akulturasi inilah kemudian menjadi tradisi yang terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam.
Sebab bagaimana pun, tradisi Baayun Maulid merupakan sebuah tradisi yang dapat dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat. Bagaimana pun tradisi kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam.
![]() |
| Baayun khas Kalimantan Selatan |
![]() |
| Baayun |
kesenian dan tradisi budaya haru terus dilestarikan dan dijaga agar tidak punah dimakan zaman. perlunya peranan baik masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan.







waahh..semoga sukses...
BalasHapusmakasih bang... ^_^
Hapusgood luck
BalasHapusmakasih bang....
Hapusmaju terus!
BalasHapussip..... Gan
HapusKeren :D Portal Update
BalasHapussip gan.... makasih...gan
Hapussip nih, orang borneo juga ya bang?
BalasHapushttp://abortusjahilius.blogspot.com/2012/06/mulailah-mencintai-indonesia.html
nitip :)
iya gan,... hehehe jadi coba mengenalkan Borneo ke Dunia maya..
Hapusmanteb mas tulisannya.. kunjungi juga tulisan saya ya.. Iwak Peyek dan Garuda yang Tidak Pernah Terbang
BalasHapusokey,,, makasih gan.....hohoh
Hapus